Skip to main content

Posts

Ruth

“Tentu masih ada harapan,” gumam Ruth yang termangu di depan layar laptopnya. Beberapa hasil penelitian yang telah dia lakukan untuk membuat sebuah perubahan di kota ini, telah tersimpan di sana. Hanya butuh beberapa sumber pengayaan lagi agar dokumen ini lengkap dan bisa diajukan ke Dewan Keselamatan Manusia di pusat Kota. Sudah saatnya pihak Dewan memikirkan dengan sungguh-sungguh, mencari akar masalah yang hingga kemudian menemukan setitik jalan terang sebagai jalan keluar agar kota ini selamat dari mara bahaya yang telah mengancam. Namun, Ruth merasa tidak bisa bekerja sendiri. Dia harus menemui Andres untuk bekerjasama menlakukan penelitian ini.

Ketakutan mulai menyebar di antara penduduk Negeri Nevro. Penyakit kulit yang telah mematikan melanda Rakyatnya. Setiap hari kabar duka selalu terdengar di antara warga. Sesaat kesedihan merayap, namun segera terlupakan karena berita seperti itu akhirnya terdengar biasa. Ini memang bukan penyakit kulit biasa. Penyakit kulit yang awalnya …
Recent posts

Pada Suatu Senja Tentang Mimpi Kita

Awalnya kita hanya berteman, kemudian rasa itu merasuk kalbu kita. Di sanalah bermula rasa cinta. Maka pada suatu senja kamu tawarkan padaku sebuah pilihan. Sebuah istanna megah kamu gambarkan.”Disana puncak impian yang kita cari,” begitu katamu. Aku mengangguk, hatiku sungguh merebak menatap istana yang kamu tawarkan. Ajaibnya, tak hanya aku yang kamu ajak menuju istana itu, semua teman yang memiliki tujuan yang sama menuju istana itu kamu ajak turut serta. “Agar dunia ini lebih berwarna, tak hanya kita berdua, meski kita saling mencinta,” begitu jawabmu ketika kutanya alasannya. “Mengapa tidak hanya kita berdua saja,” tanyaku lagi. “Bukankah kita harus berbagi bahagia?” ujarmu diiringi senyum bibir yang membuatku terpesona. Pada suatu senja kita berkumpul bersama, aku dan teman-teman yang ingin menuju istana megah yang kamu tawarkan. Kita duduk diteras rumahmu. Kemudian kamu berkata,”sejujurnya aku juga belum pernah ke sana. Tetapi aku tahu jalannya. Kita tidak punya waktu lama. Jalan m…

Don't Go!

Telingaku sudah merekam dengan baik nada dan jumlah ketukan dari ujung ruas jemari tanganmu saat mengetuk pintu rumahku dan semakin membuatku menggigil. Aku tak ingin ini terjadi.

Ketukan itu terdengar lagi. Kuseret kaki menuju pintu. Tanganku masih menggigil saat gagang pintu kutarik, tak sanggup rasanya menatapmu kali ini.  Sosok tubuh tinggi dengan raut wajah sedikit redup menatapku, tatap matanya penuh binar cinta. Bibirmu yang sedikit menghitam menawarkan senyum. Rambutmu yang mulai memanjang sebahu, diikat rapi, beberapa helai rambut di dahi kamu biarkan tertiup angin.

Kita saling membisu dalam tatap penuh cinta. Detak dada ini semakin bergemuruh. Andai boleh, rasanya ingin berlari memeluk dada bidangmu dan membisikkan kata-kata,”Jangan pergi!”.

“Aku pamit,” bibirmu lirih berucap.

Bibirku hanya bergetar, tidak ada kata-kata yang sanggup kuucapkan. Kenangan bersamamu tentu akan menghantui hari-hariku. Ketika kita berbincang tentang tulisanku yang kamu bilang super melankolis. Ke…

Caping

Caping lebar, mengingat satu benda itu selalu membuat tubuh Nur menggigil. Berawal ketika lelaki yang dicintainya, Pujo, membawa puluhan cangkul dan caping lebar ke kampungnya. Caping dan cangkul yang segera dibagikan ke hampir semua penduduk kampung di desa Waringin yang sebagian besar adalah petani.

Perasaan tak enak menjalar dalam jiwanya. Seperti sebuah pertanda buruk akan menimpa lelaki gagah yang akan menikahinya dalam hitungan hari, setelah musim tanam padi di sawah usai. Pujo, lelaki paling cerdas, lelaki satu-satunya yang tamat SR.

“Kang, istirahat dulu. Ini masakan simbok saya bawakan untuk makan siang, ada ubi rebus juga,” ujar Nur sambil menurunkan bakul di saung  yang berdiri di tepian sawah. Pujo mengangguk dan menatap Nur yang pipinya memerah.

“Ngggak langsung pulang, Dik?” tanya Pujo heran. Nur hanya menggeleng.

Mereka duduk di saung. Mulut Pujo lahap menyantap sayur lodeh dan ikan asin hasil masakan calon mertuanya.

“Kang, mengapa firasatku tak enak ya?” ujar Nur lir…

Siapakah Sesungguhnya Sosok Beliau? Sebuah Review Novel Semua Ikan di Langit

Judul buku    : Semua Ikan di Langit Pengarang    : Ziggy Z Penerbit        : Grasindo Tebal Buku    : 259 hal Genre           : Fiksi Fantasi Cetakan        : Pertama, Februari 2017 ISBN             : 9786023758067
Buku ini merupakan novel pemenang Juara 1 Sayembara menulis Novel DKJ tahun 2016. Membaca buku ini, perasaan kita akan terkoyak pada suatu waktu namun secara bersamaan akan dibuat tertawa. Gaya penulisan Ziggy yang lain daripada yang lain membuat kita akan terbawa ke suatu suasan yang lain saat membacanya, entah, sulit rasanya mendeskripsikannya. Pantaslah novel ini menjadi juara pertama, Juara tunggal, seperti dalam kalimat pertanggungjawaban juri di halaman sampul belakang yang mengatakan “Semua ikan di langit ditulis dengan keterampilan bahasa di atas rata-rata para peserta Sayembara kali ini. Novel ini mampu merekahkan miris dan manis pada saat bersamaan. Dan, perbedaan mutu yang tajam antara Pemenang Pertama dan naskah-naskah lainnya, membuat dewan juri tidak memilih pemenang…

Dariku Untukmu

Malam itu langit penuh bintang dan bulan yang bentuknya belum sempurna ikut menghiasnya, menyaksikan umat-Nya mengumandangkan takbir di setiap penjuru masjid. Namun, takbir itu tidak bisa mengubah hatiku yang kosong saat kata pamitmu bergemuruh di setiap rumah yang kamu singgahi. Aku hanya bisa mematung memandangmu. Takbir itu tidak bisa mengubah, rasanya masih sama seperti beberapa hari sebelumnya, kosong. Rasa yang akhirnya memenjarakan jemariku untuk merangkai cerita meskipun beribu-ribu kata berdesakan di kepala, seolah protes karena mengurungnya begitu lama. Kehilangan seseorang yang kita cintai menimbulkan rasa sakit yang serupa dengan ditusuk seribu jarum di bola mata. Rasa sakitnya begitu hebat, sampai kita tidak bisa bergerak, dan bahkan bernafas pun terasa sulit (1) Aku mengakui kebenaran kalimat itu, ketika akhirnyapun kamu tetap melangkah pergi. Jika aku seorang pencinta(2) mungkin aku terlihat seperti patah hati. Tetapi, ini lebih tepatnya seperti rasa kehilangan …

Infinix Hot 3, Masih Setia Menemani

Infinix Hot 3, gawai jadul sekitar satu setengah tahun yang lalu saya beli hingga kini masih setia menemani. Performanya masih juara, seperti mesin yang masih baru. Gawai yang mereknya mungkin masih dikalahkan dengan merek lainnya yang lebih ternama, tetapi performanya tidak kalah juara, sungguh memuaskan. Tidak menyesal saya memilihnya waktu itu. Dilengkapi dengan layar 5.5 inch, cukup memuaskan saya untuk membaca berita terutama saat blogwalking ke blog teman-teman. Baterai 3000 mAH juga sangat memanjakan saya dengan ketahanan baterai nya yang cukup lama. Untuk pemakaian biasa, hanya diperlukan sekali pengisian baterai  dan pengisian baterainya pun hanya memerlukan waktu kurang dari dua jam. Awal mula membeli gawai ini saya pribadi cukup cemas, mengingat saat itu merek ini masih tergolong baru diluncurkan di pasaran. Cemas jika kualitasnya tidak tahan lama atau kualitasnya tidak sesuai yang saya harapkan. Tetapi setelah menemani saya sekitar kurang lebih satu setengah tahun, rasanya t…