Skip to main content

Posts

Sandal Jepit

“Kamu kemana selama ini?” tanyamu hati-hati. Binar matamu menatapku tajam, penuh kasih. “Sandal jepit,” jawabku asal-asalan. Aku tak bermaksud menjawab pertanyaanmu. “Apa? Sandal jepit? Apa maksudmu, aku tak paham?” tanyamu lagi sambil memegang pergelangan tanganku. Matamu kembali tajam mencoba menembus iris mataku. Aku hanya menunduk. Aku tak ingin kamu telanjangi aku lewat tatapanmu. Aku menggeleng lemah kemudian berkata,”Tidak. Aku hanya sedang sibuk dengan beberapa deadline yang harus kuselesaikan.” Kupalingkan wajahku dari tatapanmu. Sungguh, aku tahu jika kamu bisa membaca semua yang kurasa dari pancaran bola mataku. Kita bukan baru saja berteman, hitungan purnama telah selesai kita hitung. “Ada apa? Kamu tidak biasanya seperti ini. Tengoklah, rumahmu penuh debu dan jelaga. Kenapa kamu sekarang seperti ini? Biasanya kamu paling cerewet ketika debu mampir ke dalam rumahmu.” Tanyamu penuh selidik. Aku mengerti, ini bukan aku sebenarnya dan kamu mengenalku dengan sangat baik. “Ayolah, …
Recent posts

Nonton

“Cepat ke ruanganku, panggil juga Uky, Dewi dan Indah!” Skypeku berkedip-kedip. Nama boss tertera di sana. Segera kupanggil Uky, Dewi dan Indah untuk segera bergegas ke ruangan Bos. Angka tigabelas dengan huruf kecil tertempel di daun pintu bagian atas. Kami menamai ruangan berukuran 3x 3 M itu sebagai ruangan keramat. Seperti keyakinan di masyarakat luas, jika angka tigabelas adalah angka keramat. Kami berdiri di hadapan boss dengan hati berdegub. Tatapan mata boss penuh selidik, serasa menguliti kami tanpa ampun. Wajahnya tanpa senyum. “Siapa yang nonton saat kerja?” tanyanya garang. Kami terdiam. Hembusan angin dari AC yang menempel di dinding, tepat di atas kepala Boss, mengelus pori-pori kulit. Bulu kuduk kami terasa berdiri, dingin menelusup ketulang. Spontan tangan kami bersedekap. “Cepat pakai jaket, biar tidak kedinginan! Sepertinya kita akan lama,” perintah bos sambil matanya mengarah ke gantungan jaket yang biasanya di peruntukan untuk tamunya. Kaki kami berempat hendak beranj…

Menguak Tragedi Mei 1998 dari Sebuah Cerpen

Membaca buku Hari Anjing-Anjing Menghilang bagi saya seperti diingatkan ke masa perubahan ekonomi yang terjadi pada tahun 1998. Saya benar-benar mengalami hal itu, ketika harga tiba-tiba melambung tinggi. Ketika belanja ke pasar, harga seikat sawi yang biasanya hanya RP 500,00 tetapai semenjak kejadian Mei 1998, uang limaratus perak tidak mampu lagi dibelanjakan seikat sawi. Itulah mengapa, membaca Buku Anjing-Anjing Menghilang terbitan Divapress ini seolah membukakan mata saya atas apa sesungguhnya yang terjadi pada hari itu. Saya menyukai semua sudut pandang yang di sajikan dari enambelas cerpen dalam buku tersebut, dan sungguh membuat saya tidak meragukan lagi bahwa otak manuisa itu bekerja sangat unik. Enambelas cerpen dengan tema yang sama, tetapi  tidak ada satupun cara penuturannya sama, meski akhirnya saya bisa menarik kesimpulan dari setiap cerita bahwa sesungguhnya tragedi Mei 1998 terjadi karena ditungganggi sebuah kepentingan pribadi atau oknum. sehingga dari sini saya pun …

Labirin

Ruang ini sunyi, tak ada suara sama sekali. Gelap dan senyap. Tak kudengar suaramu lagi. Kau di mana? Kususuri lorong ini, lorong yang berubah menjadi sebuah labirin. Biasanya kita suka bermain di sini. Menyelesaikan puzzle labirin, hingga akhirnya kita tertawa bersama saat bertemu di pintu keluarnya. Kakiku melangkah perlahan, tak kutemukan dirimu, pun jalan keluar. Aku tersesat, untuk pertama kalinya labirin ini berubah menjadi sebuah lorong seperti lorong menuju kematian. Hari berubah gelap. Bukan, bukan hari yang akan berubah senja. Mendung bergulung di langit sana. Biasanya kau akan bercerita tentang hujan yang kaurindu. Tentang hujan yang kautunggu? Lalu di manakah dirimu? Kembali kususuri labirin ini. Rumput tinggi menjulang di kanan-kiriku. Yang kutemui hanya lah lorong-lorong buntu. Mendung bergelung menjadi tetesan airmata langit yang membasahi tubuhku. Biasanya kita akan menari-nari di bawah rinai hujan itu, tetapi kini aku menggigil sendiri, tanpamu. Aku hanya bisa meringku…

Sebuah Tulisan dari Judul Tulisan

Pandangan mataku terganggu oleh sosokmu, bagiku kamu seorang sosok yang unik. Entahlah. Kamu yang hanya beralaskan sandal jepit tua. Aneh, di zaman era begini ketika orang-orang menomorsatukan penampilan, kamu melenggang enak dengan sandal jepit tua yang sudah menipis, di antara sandal-sandal kulit yang berdesakan di depan panggung. Siapakah kamu? Tanda tanya memenuhi benakku, saat aku menonton opera biawak yang di adakan oleh mahasiswa  teater Institut Seni Indonesia pada malam minggu di halaman balai gedung walikota. Atau mungkin kamu adalah salah satu anak ISI? Kepalaku menggeleng tak mengerti mengapa diri ini bertanya tanya. Kualihkan pandanganku ke atas panggung.  Buaya, harimau, gajah, anjing, hingga kecoa berperan apik di opera biawak kali ini. Mereka semua menampilkan peran yang luarbiasa.
Aku dan Edwin, salah satu teman dikala rawan, melangkah beriringan menuju halte di depan  gedung balai Walikota berharap masih ada angkot yang bisa membawa kami ke kostan. Setelah angkot berh…

(Bukan) Sebuah Review Novel Critical Eleven

Judul       : Critical Eleven Pengarang   : Ika Natassa Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Cetakan ke dua, September 2015 ISBN        : 978 – 602 – 03 – 1892 – 2
Critical Eleven merupakan buku ke dua karya Ika Natassa yang saya baca setelah Antologi Rasa. Dari ke dua novel itu saya akhirnya mengatakan jika saya menyukai gaya Ika Natassa yang menulis novelnya dengan bahasa yang lugas, lepas, tidak ditutup-tutupi karena mungkin itulah realita sebenarnya yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin seperti itu juga saya dapat menyimpulkan bahwa gaya kepenulisan seperti itu merupakan salah satu ciri khas novel-novel metropop yang saya baca akhir-akhir ini.
Saat membaca blurbnya, saya kira buku ini akan banyak bercerita tentang hal-hal yang terjadi di dunia penerbangan dan bersetting di bandara. Namun ternyata saya salah besar, begitu memasuki halaman-halaman dalam kisah ini, saya terbuai membacanya. Critical Eleven merupakan novel ketiga yang membuat saya jatuh ci…

Hari yang Paling Membahagiakan di Dunia

Ada setitik air mata menetes di pipi, ketika aku tidak mengetahui keberadaanku kini. Samar jalan terbentang di depan. Aku lunglai, nafas tersengal. Amnesia, mengapa dan kenapa aku bisa terkurung di sini, di ruang yang terasa sempit dan gelap, seperti tanpa ventilasi, membuatku hampir mati. Aku merangkak mencari setitik cahaya, agar aku bisa keluar dari kegelapan. Jerit hati meminta pertolongan, namun aku ragu, mungkinkah ada? Apakah Beliau akan datang? Beliau yang melegenda dan tak pernah tahan mendengar jerit nestapa. Sebuah sorot lampu menyilaukan. Sosok kecil dengan jubah menjuntai berdiri di depan sana. Ikan-ikan kecil beterbangan, dari mulutnya menyembur bintik-bintik berkilauan, mengangkat tubuhku kemudian meletakkan di sebuah gerbong dengan banyak kursi. Samar aku mendengar suara berkata,”beliau akan membawamu ke tempat yang paling membahagiakan di dunia.” Aku duduk, mataku nanar mencari asal suara. Kutatap beliu yang duduk menunduk di ujung kursi. “Jangan mendekat kepadanya!” seb…