9
www.ceritaayah.tumblr.com

Saya mau bercerita saja pengalaman yang berkesan selama bapak masih Sugeng. Meski tak banyak moment yang bisa ingat. Bapak adalah seorang guru SD di sebuah sekolah negeri yang berjarak kurang lebih 12 km. Setiap hari bapak mengayuh sepeda onthelnya menuju ke sekolah. Waktu itu tahun 80 an, motor adalah barang yang terlalu mewah. Hanya orang-orang yang bener-benar kaya yang bisa memilikinya. Tidak seperti hari ini. Jika waktu tiba gajian, Bapak akan pulang membawa beras segoni. Mungkin beratnya 50 kg. Bisa di bayang kan bagaimana perkasanya bapak dengan jarak tempuh 12 an kilometer mengangkut beras sebegitu beratnya di jalanan pulang yang selalu menanjak.

Bapak adalah seorang yang pendiam, tidak banyak bicara. Tetapi sekalinya marah bapak sungguhlah sosok yang paling kami takuti.  Hal lain yang kami berkesan dari bapak adalah setiap hari beliau membawakan buku-buku cerita, koran ataupun majalah. Tiada hari kami tanpa membaca, bahkan ketika sedang makan pun kami sambal membaca. Pun waktu itu dirumah juga tidak ada TV. Ibu sampai marah ketika memergoki kami makan sambil membaca. Di bawah meja tamu, di lemari selalu penuh dengan buku bacaan, majalah atau koran. Image itu juga yang membuat saya selalu melongok ke bawah meja tamu atau menatap lemari hias setiap bertamu ke rumah teman atau saudara, berharap ada majalah yang bisa kami baca.

Selain bapak mengajari kami untuk rajin membaca, bapak adalah seorang petani bertangan dingin. Bapak rajin ke sawah. Ada beberapa petak sawah yang bapak rawat dengan betul. Pagi-pagi sebelum bapak pergi mengajar, bapak akan pergi ke sawah. Tanamanya beragam dan silih berganti. Kadang sawi, jagung , ubi, padi ataupun tanaman palawija lainnya. Sungguh suatu kenangan yang indah di sawah ketika Bapak masih ada. Kami ke empat anaknya yang sudah besar bisa bermain petak umpet di antara pohon-pohon jagung yang tumbuh subur. Dan yang paling kami suka dari hasil sawah bapak adalah ketika tak henti-hentinya bapak memanen ubi ungu yang sangat lezat sekali.

Di sekeliling rumah kami buah-buahan juga tumbuh subur. Pohon mangga, pohon rambutan, pohon jambu entah itu jambu Bangkok, jambu susu ataupun jambu klutuk, Pohon Belimbing, Pohon Sirsak, pohon pakel, kebun nanas di belakang rumah, pohon jeruk, pohon pisang, pohon pepaya, pohon jambu monyet, pohon nangka, pohon melinjo. Semuanya ada, tumbuh subur dan bukan hanya 1 batang dari tiap jenis nya. Dan yang paling mengerikan adalah ketika musim ulat jambu mede. Hmm ulat yang besar-besar  bergaris-garis akan berserakan di mana-mana. Terlebih pohon jambu mete mengelilingi setiap sisi rumah kami. Meski begitu bapak tidak pernah menebangnya. Dengan telaten ulat-ulat itu di sapu, di kumpulkan menjadi satu kemudian di bakar.

Meski begitu ada saat menyenangkan dengan jambu mete. Ketika musim panen jambu mete, kami – 6 anak-anak Bapak- akan mengambil beberapa mete yang sudah di kumpulkan kemudian duduk di depan tungku dan membakarnya. Biasanya kami lakukan di pagi hari ketika ibu masih asyik memasak dan bara api masih memerah. Setelah mete kelihatan hitam kami ambil dengan kayu kemudian kami pukul dengan semprong bambu dan di ambillah biji metenya. Tralalala mete yang lezat siap kami santap.

Selain di bakar biji jambu mete juga bisa di uangkan. Setiap minggu akan ada pembeli biji mete langganan yang membeli biji-biji mete yang sudah kami kumpulkan. Setiap biji mete di hargai 5 rupiah. Saat itu tahun 1986 lima rupiah masih sangat berharga. Jika sedang banyak biji-biji mete itu bisa laku dua ribu lebih.

Hingga kemudian di tahun 1988 Bapak jatuh sakit dan meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Satu persatu buah-buahan yang tumbuh lebat itu mati meranggas. Pun dengan sawah. Tidak ada yang sedingin tangan bapak dalam merawatnya. Tidak ada anaknya ataupun saudara bapak yang bisa menggantikan posisinya dalam merawat sawah dan buah-buahan di kebun kami. Yang tertinggal kini hanyalah beberapa pohon nanas yang tidak berbuah dan pohon kelapa yang masih berdiri tegak di halaman depan rumah sebagai saksi betapa dulunya tanah pekarangan kami pernah berjaya.

Semua memori itu masih terekam sebagai hal yang sangat berkesan dalam hidupku.

#ODOP tantangan menulis minggu ke 4

#Semangat menulis setiap hari

Post a Comment

  1. jadi kangeeen bapk..dulu beliau jg ngonthel jauuuhhh ke SD nya

    ReplyDelete
  2. Memang bapak itu tidak ada gantinya

    ReplyDelete
  3. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu...

    ReplyDelete
  4. bapakku dulu nganter aku ke sekolah juga naik sepeda mbak..*jadi kangen bapak..

    ReplyDelete
  5. Aku sjk kecil udh terpisah dari bapak ibu ..
    Hiks hiks

    ReplyDelete
  6. Mengingatkan saya juga kenangan bersama bapak.

    ReplyDelete
  7. Ketika orang tua memberikan dan menanamkan pendidikan yang baik. Insyallah hasil anaknya akan jadi baik. Orang tua adalah bagaikan guru honorer yang mengajar dengan ketulusan...

    ReplyDelete

 
Top