2

Dua tegukan teh hangat telah di nikmatinya malam itu. Dan rasanya masih sama, meski perlu waktu untuk enam tahun meneguknya lagi. Teh dengan bungkus bergambar sepasang lelaki dan perempuan mengacungkan ibu jarinya. Di seruputnya lagi teh hangat itu dan di biarkannya secangkir teh itu menggantung di ujung ibu jari dan jari telunjuk yang melingkar. Layar leptop masih kosong terpampang di depannya. Namun pikiran Beth tidak di sana. Selembar foto di genggamanya. Bibir Beth tersenyum.
“Aku menamainya teh kenangan”
“Kenapa?”
Beth hanya tersenyum. Matanya menatap kerimbunan pohon bambu yang bergoyang di tiup angin sore itu. Gemerisik daun-daunnya yang saling bergesekan sudah akrab di telinga Beth.
“Kenapa kamu menamainya dengan teh kenangan?”
Beth menoleh, menatap lelaki itu dengan senyum.
“Bukankah bungkus teh ini bergambar sepasang lelaki dan wanita yang mengacungkan ibu jarinya”
Sunyi, tak ada jawaban dari Beth. Kemudian di tariknya tangan Sam, lelaki itu menuju bawah rimbunan pohon bambu. Diambilnya kamera saku. Foto mereka berdua dengan senyuman  tersimpan di layar kamera saku.
“Aku akan menceritakanmu tentang teh kenangan ini suatu hari nanti.”
Sam hanya mengangguk dan bergegas pamit. Gemerisik daun-daun pohon bambu yang bergesekan menemani kesunyian Beth yang masih duduk menyesap teh kenangan itu hingga tak tersisa lagi.
###

Berita itu membuat Beth gusar. Membuat Beth harus menunda menyelesaikan laporan akhir bulan yang seharusnya selesai kemaren siang. Untung bossnya masih memberi tenggang waktu hingga besok sore. Dan malam ini jarum jam sudah menunjukkan angka dua. Namun mata Beth masih belum mau terpejam.
“Tidak bisa pulangkah?”. Beth tersenyum membacanya. Pesan dari Sam siang tadi. Untuk pertama kalinya Sam menanyakan kepulangannya sejak mereka lulus SMA ketika kemudian Beth memutuskan untuk kuliah di kota dan kemudian Beth mendapatkan pekerjaan di kota yang sama.
“Belum saatnya”
Sunyi, tidak ada balasan dari Sam. Mata Beth masih terpaku di layar samsungnya. Status Sam masih online dan pesan terakhir sudah terbaca oleh Sam.
“Aku ingin mendengar ceritamu tentang teh kenangan itu”.
Beth tersenyum membacanya.  Kemudian jemarinya mengetikkan kalimat balasan. “Aku akan menceritakannya di bawah rindang pohon bambu.”
Smile emoticon muncul di layar Samsung Beth. Namun justru kalimat selanjutnya yang membuat Beth gelisah malam ini.
Di bolak-balikkanya buku agenda kerjanya. Berharap ada celah yang tepat hingga Beth bisa memohon cuti mendadak. Beth ingin pulang dan menceritakan tentang teh kenangan kepada Sam meski ceritanya belum sempurna. (bersambung)

#ODOP hari ke 4


Post a Comment

 
Top