5
www.pixabay.com
Sore itu, ketika senja terlihat keemasan aku duduk di bangku panjang lobi kedatangan Bandara Hang Nadim. Duapuluh menit lagi pesawatmu mendarat. Berulang kali mataku beralih antara layar display dan layar HP. Nama pesawat yang kau tumpangi kini berada di urutan teratas, menandakan bahwa sebentar lagi pesawatmu akan mendarat.
           
Hatiku rasanya tak sabar menanti pertemuan ini. Enam tahun yang lalu terakhir aku mengunjungimu. Rinduku membuncah di dada. Meski jarak yang terbentang ini selalu terikat oleh deringan telpon di akhir minggu. Berjam-jam menghabiskan waktu berbincang denganmu tentang masa lalu, tentang keadaanmu di sana sekarang, tentang tetangga-tetangga kita, tentang teman sepermainanku, tentang nasehat-nasehatmu. Serasa tidak cukup waktu untuk membahasnya.
           
Bentangan waktu yang terukir begitu lama, tak terasa sudah. Panah waktu yang melesat begitu cepat menembus roda kehidupan hingga putarannya membawaku pada posisi 270 derajat. 270 derajat dibandingkan bentangan waktu yang telah kau tapaki.
           
Suara petugas bandara menginformasikan bahwa nomor pesawat yang kau tumpangi sudah mendarat dengan selamat. Kaki melangkah mendekat pintu kedatangan.  Mataku tak lepas menatap kesana. Bayangan terakhir tubuhmu yang pernah tersimpan di memori otakku belum juga terlihat. Justru pikiranku kembali melaju kepadamu. Engkau yang memiliki cinta seluas samudra, samudra yang tiada bertepi. Ketika kau dengar cerita sedihku, tanganmu selalu membentang mengulurkan kehangatan. Ku belajar banyak dirimu, akan cinta tanpa syarat.
           
Kini retina mataku menangkap sosokmu di sana, berjalan pelan menujuku. Kedua jemari tanganmu ku gengam. Kucium, kurasakan goresan tanganmu yang semakin berparut. Air mata yang ingin mengalir, ku seka dengan segera. Aku ingin engkau melihatku selalu bahagia.
            Ibu, semoga masih ada waktu untuk membahagiakanmu


#ODOP menulis setiap hari

Post a Comment

 
Top