5
Sumber:Google



Sudah jam sebelas lewat 20 menit, tapi tulisan belum juga ada endingnya. Akhirnya putar haluan untuk menulis kisah 12 tahun lalu.

Honeymoon? Jika kita mendengar kata honeymoon pasti kita akan langsung teringat dengan pasangan pengantin baru. Sebenarnya kenapa orang menyebutnya sebagai honeymoon itu saya kurang paham dan juga belum tanya mbah google, apalagi melakukan penelitian. Honey= madu, moon=bulan. Jadi apakah setelah menikah itu terus ke bulan untuk mengambil madu atau bulan itu jadi serasa sarang madu, saya belum paham. Ataukah rumah mereka seperti sarang madu? Berarti pengantin barunya lebah ya? Embuhlah, sepertinya nggak perlu di bahas ini.


Selain saya nggak mengerti kenapa di sebut bulan madu, saya mungkin ingin memberikan usulan kalau diganti saja istilahnya menjadi bulan malu-malu kucing. Apalagi itu? Ah artikan sendiri aja ya.

Langsung saja ya ke inti tulisan. Bulan ke dua di tahun 2004, saya memutuskan untuk mengakhiri masa lajang saya. Pesta sederhana di adakan di rumah saya daerah kaki Gunung Merapi. Keluarga besar suami yang berasal dari Riau juga menyempatkan hadir untuk mengantarkan anak laki-lakinya menikahi gadis dusun seperti saya. Singkat cerita acara berjalan sesuai rencana dan saatnya saya ikut suami dan keluarga besarnya untuk kembali ke Riau.

Dari Jogja kami naik kereta api Taksaka Malam. untuk pertama kalinya saya naik kereta api eksekutif dengan status sebagai seorang istri. Kami berencana bermain sejenak di Jakarta dan kebetulan kakak Ipar waktu itu sedang ada tugas kerja di Jakarta.  Menyempatkan mencicipi kuliner kereta api dengan memesan nasi goring special. Meski rasanya biasa saja dan tidak se special namanya, tetapi karena di nikmati dengan suasana yang berbeda maka Nasi goreng itu terasa nikmat.


Jam 4 pagi,kami sampai di Stasiun Gambir. Kemudian menuju rumah kakak ipar di daerah Jakarta Selatan. Setelah istirahat sejenak sekitar 3 jam, kakak ipar mengajak kami jalan-jalan mengunjungi Ancol. Kata kakak saya anggap saja sebagai hadiah Honeymoon alias bulan madu. Seingat saya dari rumah kami naik angkot menuju Blok M, kemudian naik Transjakarta. Itu juga untuk pertama kalinya saya naik Transjakarta yang terbilang masih termasuk transportasi baru waktu itu.

Di Ancol, seperti biasa bermain sepuasnya di setiap arena permainan. Yang paling membuat jantungan adalah halilintar dan kapal berayun. Asli jantung saya mau copot. Dan karenanya saya berjanji tidak ingin menaiki permainan ini lagi. Selain itu tidak lupa kami sempatkan untuk foto-foto di setiap sudut permainan. Juga menyempatkan foto sama Mickey Mouse. Tentunya sebagai dokumentasi kenangan honeymoon kami. Tahun 2004 smartphone belum secanggih saat ini. Waktu itu masih menggunakan roll kamera otomatis merk Fujifilm.

Hari berlalu setelah kami sampai Pekanbaru. Tentu kami ingin mengenang kembali masa “Honeymoon” dengan ingin menikmati foto-foto hasil jepretan di Ancol. Namun betapa kecewanya hati kami, ketika kakak ipar mengabarkan jika satu roll film itu tidak menghasilkan foto satu pun alias terbakar( istilah jaman itu jika foto tidak bisa menghasilkan gambar). Walhasil Honeymoon itu tanpa kenangan, hanya dalam ingatan kenangan itu terpatri.

#ODOP Mengejar deadline
#ketahuan kalau berasal dari jaman baheula 

Post a Comment

  1. Yaaah....sayang ya fotonya hangus. Padahal pengen lihat...hehe

    ReplyDelete
  2. Cie cie....yg lagi honeymoon sweet memories...
    Ga papa mbak, meski ga punya picture selfienya....yg utama kan hal itu tepatri kuat dan jelas dlm benak mbak.wiwid sekeluarga....
    Dan itu pigura foto terindah yg terpampang dalam dinding hati
    (#ngomong opo toh aq iki...hehehhe)

    ReplyDelete
  3. walah mb wid,,,ko yo bisa kebakar

    ReplyDelete
  4. sabar mba yang penting orangnya masih ada kan? hehehhe..

    ReplyDelete
  5. sy masih ngerasain sensasix berfoto pake 'tustel'itu waktu SD..😁 1 roll film itu amat berarti..haha..

    ReplyDelete

 
Top