3
www.pixabay.com
Hujan di luar turun dengan lebatnya di sore itu. Win di dapur mengaduk dua gelas teh panas dan sepiring kue brownies di sampingnya. Bram yang baru bangun dari tidurnya masuk ke dapur memperhatikan Win.

“Untuk siapa?” Win menoleh dan berhenti mengaduknya.


“Untuk kita” jawab Win dengan senyumannya. Bram pun kemudian tersenyum. Matanya berbinar.  Kemudian di ambilnya sepiring kue brownies tersebut.  Win menatap Bram mencari kata-kata dari matanya. Win mengerti. Win dan Bram kemudian duduk di teras menatap hujan. Salah satu tangan mereka saling bergenggaman.

"Dia juga di ambil oleh hujan Win.  Enam tahun lalu".  Cerita Bram malam itu setelah Win terisak mengingat bapak dan mobil remote controlnya. Kekasih Bram meninggal di saat hujan dalam sebuah kecelakaan. Bram yang merasa jarak ke rumah kekasihnya itu sudah tidak begitu jauh, hingga Bram enggan berteduh. Win mengerti kini kenapa selalu ada kilatan cemburu dan kesedihan ketika Win selalu mengingat Bapak dan menikmati hujan. Bram tidak ingin kenangan tentang hujan itu merampas Win dari sisinya.

Win kini juga mengerti kenapa Bapak begitu mencintai hujan. Win di lahirkan saat hujan lebat dan ibu tiada saat itu. Kebahagiaan dan kesedihan yang datang bersamaan untuk Bapak. Win juga tahu kenapa Bapak berkelahi dengan tetangga beberapa waktu lalu. Bahwa Bapak tidak rela jika Win di bilang anak pembawa sial. Karena kesialan Bapak yang pertama di mata mereka adalah meninggalnya ibu saat melahirkan Win.

"Hmmm mas apakah kamu masih mencintainya?" selidik Win mencari jawaban di antara mata romantis Bram.

“Iya”, Win pun merengut.

“Hmmm maksudku iya, aku mencintai seorang wanita yang sangat mencintai hujan dan akan mengukir kenangan akan hujan bersamanya” jawab Bram dengan kerlingan mata nakalnya. Wajah Win memerah dan di cubitnya lengan Bram dengan gemas,

“Hmmm…apakah kamu masih akan menduakanku dengan hujan?” Bram ganti bertanya. Menyelidik mata Win, mencari jawaban.

Win tidak menjawab. Hanya di genggamnya jemari tangan Bram semakin erat. Bram tidak bertanya lagi, genggaman erat tangan Win merupakan sebuah jawaban bagi Bram.

           Kembali mereka berdua menatap hujan. Win kembali mengeratkan genggaman jemarinya dan menyandarkan kepalanya ke bahu Bram. Seolah ingin mengatakan bahwa kini Win ingin mengukir kenangan tentang hujan bersama Bram.

                                                                          Tamat

Post a Comment

 
Top