2
GOOGLE SEARCH

“Lha kamu senang apa Ning jadi biduan terus. Manggung malam-malam. Ra elok suwe-suwe,” ujar Yanto di suatu malam, saat mengantarnya pulang dari pementasan organ tunggal.

Ningrum hanya terdiam. Alunan lagu kopi dangdut yang di nyanyikan Liza Natalia semakin menambah kebimbangannya. Nasib yang telah mengubahnya. Serasa kopi hitam yang pekat, bahkan dari warnanya pun sudah menunjukkan ke gelapan. Di tambah dengan rasa pahitnya. Klop sudah.

“Aku mau menikahimu Ning. Dan tak perlu lagi kamu menjadi biduan Organ tunggal yang harus pulang malam begini. Cukup di rumah mengurusku dan  Simbok.”

Suara sirine dari panci pemasak air menyadarkan lamunanya. Ningrum hendak mengambil kopi dari dalam grobog, wajahnya seketika berubah. Lima kotak kopi banaran terlihat di depan matanya. Bungkusan kopi itu masih berjejer rapi di grobok simbok. Lima kotak kopi yang masih disimpan Ningrum tanpa menyentuh isinya. Hatinya selalu merasa eman-eman untuk menikmati isinya yang terkenal lezat itu.


          Jam menunjukkan pukul tujuh malam.  Ningrum menuju dapur, menyalakan kompor untuk memasak air panas untuk menyeduh segelas kopi hitam, rutinitasnya yang di lakukan ketika ketika hendak manggung. Desa sebelah mengundang organ tunggalnya untuk mengisi malam puncak tujuh belasan. Jam sembilan malam nanti truk Yanto akan menjemputnya beserta grup organ tunggalnya.

    Ningrum hanya bisa menghela nafas dan menyesap sedikit demi sedikit kopi hitam di gelasnya.



#Cerita Kopi

Post a Comment

 
Top