4

Dua novel keren ini sangat recommended untuk di baca, menyentuh dan memberikan pelajaran terutama bagi kita yang dilahirkan dengan fisik yang sempurna.

Kedua novel ini mempunyai persamaan ide meskipun saya yakin kedua penulisnya belum pernah membaca novel satu sama lain dan mungkin bahkan  tidak saling mengenal satu sama lain.

Ke dua novel ini sama-sama memenangi juara lomba kepenulisan novel. Novel Sepotong Diam adalah sebuah novel yang memenangi Juara 2 Menulis Buku AGP dan Novel Her Beautiful Eyes adalah pemenang unggulan Lomba kepenulisan Penerbit Qanita.



Kedua novel ini mempunyai tema yang sama yaitu diambil dari sudut pandang seorang difable yang salah satu kakinya mengalami lumpuh di karenakan virus polio yang menyerangnya.

Kedua Novel ini mengisahkan haru biru perjuangan hidup mereka yang selalu bersemangat bagaimana mereka berusaha untuk tetap hidup mandiri, bermanfaat bagi orang lain, meski terkadang ada hal-hal yang membuat kepercayaan diri mereka hilang terutama jika berurusan dengan virus merah jambu.

Entah mengapa naluri saya mengatakan untuk menulisnya dalam satu tulisan. Karena saya merasa novel ini berjodoh.

Sinopsis Novel Sepotong Diam

Novel yang mempunyai tebal 377 halaman + viii diterbitkan secara indie pada bulan September 2015 dan di tulis oleh Bang Syaiha. Seorang Pendidik yang menderita penyakit Polio. Dalam novel Sepotong Diam ini seolah membaca kisah perjalanan hidup bang Syaiha sesungguhnya.

Dalam Novel Sepotong Diam sendiri, tokohnya seorang laki-laki bernama Khalid. Khalid yang dilahirkan sempurna, namun virus polio menyerangnya diusia satu tahun. Meski salah satu kakinya mengecil, Khalid adalah seorang yang berotak cemerlang. Selalu ber IP tinggi. Perjuangan seorang Khalid mendirikan  Klinik belajar , perjuangan cintanya yang lebih sering bertepuk sebelah tangan. Perjuangan menenangkan hatinya untuk tetap percaya diri ketika semua pasang mata melihatnya dengan tatapan kasihan ketika kakinya terayun-ayun menapaki tanah.

Meski Khalid berotak cerdas, namun ternyata dunia pekerjaan tidak bersahabat dengannya. Ketika beberapa kali mengirimkan lamarannya, tes tertulis dan psikotest selalu berhasil dilaluinya dengan sempurna. Namun ketika saatnya wawancara dan user perusahaan mengetahui kecacatan kakinya, maka disitulah akhir perjuangannya. Setelah berulang kali menerima penolakan, akhirnya khalid memberanikan diri untuk mengikuti program mengajar di pedalaman bersama Sekolah Pendidikan Indonesia Badan Zakat Indonesia. Dan ternyata dunia pendidikan lebih menghargai kecerdasan otaknya.

Namun bagaimana dengan kisah cintanya Khalid? Ketika proses ta’arufnya dengan Siska berakhir dengan penolakan tidak sempat membuat Khalid larut dalam kecewa. Ketika ada sosok wanita yang mempunyai rasa yang sama yang bernama Dhisya. Akankah Dhisya akhirnya menjadi pendamping hidupnya? Sayangnya akhir dari novel sepotong diam ini masih terasa menggantung.

Namun ternyata lanjutan Novel Sepotong diam ini sudah di persiapkan oleh penulisnya di sekuel kedua yang berjudul Masih ada.

Novel yang bersetting di daerah sekitaran IPB tempat di mana Khalid kuliah ini ditulis dengan apik dan mengalir. Membacanya akan kita dapati perjuangan Khalid untuk meraih impiannya. Menjalani hidup yang bukan sekedar hidup, hidup yang penuh arti. Perjuangan meraih Cita dan cintanya.

Sinopsis Novel Her Beautiful Eyes

Novel Her Beautiful Eyes ini merupakan pemenang unggulan Penulisan Romance Qanita. Novel setebal 327 halaman yang di tulis oleh mbak Rien DJ ini di terbitkan oleh Penerbit Qanita pada tahun 2013.

Novel ini juga menceritakan kehidupan difabel bernama Tiara. Salah satu kakinya juga mengecil karena Virus Polio. Tiara mempunyai bisnis Online dan menulis sebagai sumber pendapatannya agar hidupnya bisa mandiri dan tidak merepotkan orang lain, meskipun orang tuanya terbilang cukup kaya dan selalu rutin mentransfer uang ke rekeningnya, dan begitu juga dengan kedua kakak Tiara.

Hidupnya seolah berubah seketika ketika sahabatnya Nuni menawarkan sebuah pekerjaan di Sarwo Batik yang berbasis online-shop. Meski pada awalnya Tiara tidak memiliki rasa percaya diri, namun akhirnya Tiara benar-benar merasa jika dia di terima di Sarwo Batik bukan karena rasa iba pemiliknya, Hakam Cahyadininrat.

Selain Nuni, Tiara juga memiliki seorang sahabat yang bernama Antariksa. Antariksa ini juga seorang difable dan justru kedua kakinya lumpuh dan harus menggunakan bantuan kursi roda untuk membantu mobilitasnya. Antariksa berkesempatan mengenyam pendidikan di luar negeri, Australia. Setelah kepulangannya, Anta dan Tiara kemudian mendirikan sebuah komunitas untuk para difabel yang di namakan KDS.

Hingga kemudian hubungan Hakam dan Tiara menjadi hubungan yang bukan hanya sekedar Bos dengan bawahannya saja. Meski Tiara sudah membentengi hatinya dengan antioksidan virus merah jambu, namun pada kenyataanya pesona Hakam mampu menjebol dinding hatinya.

Di tempat lain, sahabatnya Anta yang di juluki Ketua KDS semakin sedih ketika akhirnya KDS semakin sepi. Kebanyakan anggotanya yang pengamen, merasa kesulitan jika harus menuju ke tempat Anta yang harus di tempuh dengan naik bus atau transportasi umum.

Dan kemudian ketika keputusannya untuk meniggalkan Solo karena proposal beasiswanya di terima dan pada kesempatan yang sama kakak Anta menawarkan pekerjaan baginya.

Berulang kali Anta juga menegaskan jika di luar negeri, tidak ada perbedaan perlakuan kepada para difabel. Bahkan sarana dan prasarana demi memudahkan para difabel untuk mengakses segala tempat di sediakan oleh pemerintah di sana. Begitu juga dengan pekerjaan, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkanya.

Ketika Hakam akhirnya menawarkan debar-debar di jantung Tiara menjadi kenyataan, akankah serta merta Tiara menerimanya? Ketika disisi lain Tiara tahu jika ada Ine yang secantik Lola Amalia adalah calon menantu yang sudah di setujui ibu Hakam?. Dan ketika resah Anta tentang perasaanya pada Tiara yang sudah berubah dari cinta seorang sahabat menjadi cinta antara seorang lelaki dengan perempuan di ungkapkan? Kepada siapakah akhirnya Tiara melabuhkan hati?

Kisah kehidupan Tiara, Nuni, Hakam dan segala lika-liku nya di kisahkan dengan apik dengan berlatar kota solo. Membaca Novel ini seolah kita sedang menjelajahi dan berwisata kuliner di sana.  Dan mempelajari sedikit lika-liku bisnis online.

Kedua novel ini seolah berkata bahwa di negara kita ini seolah tidak ada kesempatan dan fasilitas untuk para difable ini. Betapa susahnya mereka mencari kerja dan lebih buruknya tidak ada fasilitas untuk memudahkan para difable bergerak mekipun itu ditempat umum. Salah satunya adalah univeritas.

Dari kedua novel ini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa selalu ada sesorang yang di turunkan Tuhan yang berhati tulus untuk mencintai kita. Terlepas kita diciptakan sempurna ataupun tidak sempurna. Dan Justru dari orang-orang yang memiliki ketidaksempurnaan fisik itu semangat untuk maju dan mandiri jauh lebih besar dari pada kita yang di ciptakan sempurna.

Satu kata untuk hati kita jika membaca ke dua novel tersebut adalah meleleh.

#Resensinovelromantis #reviewnoveljuara
#Novelromantis

Post a Comment

  1. Wah.. Terimakasih mbak, sudah membaca novel saya... Semoga banyak manfaatnya..

    ReplyDelete
  2. Wah, keren mbak wid..uni jadi kepengen baca Novel Her Beautiful Eyes juga ah..:)

    ReplyDelete

 
Top