0
www.cchurin.blogspot.com
Fia
Dimana kamu Arman? Apakah kemarahanmu telah membuatmu benar-benar melupakanku? Kenapa engkau lenyap begitu saja? Tidakkah kau baca suratku waktu itu? Surat yang masih aku ingat sampai sekarang baris demi barisnya.

Arman

Fia tahukah kamu, kini aku mencoba membuka hatiku untuk seorang gadis. Gadis itu sepertimu Fia. Cantik, tegas dan cerdas, meski tak selembut tutur katamu. Aku banyak menemukan kesamaan dirimu di dirinya. Namun aku masih ragu Fia, karena setiap melihat Gina, aku seolah melihatmu.



Aku masih di rundung keraguan Fia. Jujur aku memang kecewa padamu saat itu. Sakit dan kecewa bercampur menjadi satu, menjadi rasa yang tiada terkira. Namun itu hanya sesaat, selebihnya aku terus menyimpanmu di dalam hati dan membingkai wajahmu dan menggantungkannya di dinding hatiku hingga kini, enam tahun berlalu.

 Namun entah mengapa aku terlalu pengecut untuk menghubungi atau mencarimu.

Fia

Enam tahun telah berlalu sejak kejadian itu, namun bagiku seolah baru kemarin. Rasa itu masih menyesakkan dada setiap mengingatmu. Sudahkah engkau mendapatkan penggantiku Arman?

Arman

Hari ini, aku di bandara SSQ, Pekanbaru. Gina menggandeng tangan kananku menuju pintu kedatangan domestik. Menjemput kedua orangtuaku yang berkunjung ke sini ingin bertemu dengan Gina dan keluarganya. Akan membicarakan lebih lanjut tentang rencana pernikahan kami. Gina masih bergelayut manja di tangan kananku. Kepalanya di sandarkan di pundakku. Aku tak begitu memperdulikan apa yang di celotehkannya. Hingga terdengar pengumuman bahwa pesawat dari Jogja sudah mendarat dengan selamat.

Kuamati dengan seksama orang-orang yang bergegas keluar. Mencari sosok ayah dan ibu di antara kerumunan orang-orang yang bergegas keluar. Dari jauh ku tangkap sosoknya yang sekian lama sudah akrab di memoriku. Ibu dan ayah. Tangan kiriku melambai kepadanya. Sedang Gina masih bergelayut manja menggandeng tangan kananku.

Namun seketika tanganku terpaku, aku menangkap sosok lain di belakang ibu. Hatiku bergemuruh, jantungku berdetak sangat keras. Sosok itu, sungguh aku sangat merindukannya. Sosok yang selama ini masih menghias dinding hatiku, enam tahun lamanya.

Bersambung

#ceritaromantis #ceritaperpisahan

Post a Comment

 
Top