1
Www.cchurin.blogspot.com

FIA
Aku mencari sosok Sinta di pintu kedatangan Bandara SSQ, hari ini aku di tugaskan kantorku untuk mengaudit kantor cabang di Pekanbaru. Berkali-kali ku alihkan pandanganku kesana kemari. Namun aku masih tidak menemukannya, hingga siluet tubuh yang kukenal beberapa tahun yang lalu tertangkap oleh retina mataku.

Seketika hatiku bergemuruh, jantungku berdegup kencang. Namun serasa semua anggota badanku kelu, tidak bisa di gerakkan. Namun aku menyadari bahwa ia tidak sendiri. Hatiku gerimis dan tersayat. Seorang gadis manis bergelayut manja di tangan kirinya yang kokoh. Dia kah belahan jiwamu kini? Apakah ini pertanda dariMu Tuhan, inikah jawabanMu atas sekian tahun kebodohanku atas penantianku kepada Arman? Kembali airmataku mengalir, antara bahagia dan sedih semua bercampur jadi satu. Namun segera ku seka, ketika aku mendengar suara Sinta memanggilku.



Arman

Benarkah sosok itu dirimu? Aku masih tak percaya? Dan ketika tangan kiri Gina secepat menyeret tubuhku menghampiri Ibu. Mataku masih menoleh kepadanya, dia menatapku dari jauh. Tangan kanannya kulihat menyeka airmata, sesungging senyum tipis seolah ditujukan padaku. Hingga kemudian seorang wanita yang sebayamu mendatangimu dan pergi beranjak menuju antrian taksi.

Fia

Siluet tubuh itu semakin menjauh, ingin rasanya aku menghampirinya. Namun aku tak berdaya. Dia sudah menemukan belahan hatinya. Kalau wanita itu bukan belahan hatinya tentu tidak akan semesra itu bersamanya. Dia masih menoleh kepadaku meskipun dia berjalan membelakangiku. Raut wajah yang ingin menyampaikan sesuatu. Tetapi wanita itu terus menyeretnya bertemu Ayah Ibunya. Gadis itu terlalu akrab untuk sekedar sahabat bagimu, Arman. Kulambaikan tangan kepadanya dengan lemah sebagai tanda perpisahan yang sesungguhnya dan sesungging senyum tipis sebagi tanda aku bahagia melihatnya.

Arman
Aku menoleh sekali lagi mencari sosok Fia. Aku harus mengatakan sesuatu, mengatakan bahwa aku masih menunggunya, bahwa aku masih mencintainya dan bahwa aku ingin bersamanya selamanya. Sekelebat kulihat dia masuk ke taksi yang berwarna biru.  Sekejap ada kekuatan yang membawaku berlari sekuat tenaga mengejarnya. Tak ku hiraukan teriakan Gina yang memanggilku, dan tatapan orang disekitarku yang menatapku dengan heran. Namun terlambat, taksi itu telah meluncur cepat. Ku panggil nama Fia sekuat tenaga, berharap Fia melihatku dan menghentikan taksinya untuk menemuiku. Namun harapanku sia-sia. Taksi biru itu meluncur dengan cepat meninggalkanku. Aku lunglai tak berdaya, hatiku diselimuti mendung, kemudian gerimis dan akhirnya hujan.

Fia
Sepertinya aku mendengar suaramu memanggilku. Ku tolehkan pandangan kesegala penjuru, di belakang sana. Engkau memandang taksiku sendu. Apakah engkau ingin mengatakan jika kini engkau telah menemukan belahan hatimu? Dan kemudian mengenalkannya kepadaku?

Sebaiknya itu tidak terjadi Arman. Karena aku belum siap mendengar semua itu. Segera ku buka HP ku dan ku cari nomor kontakmu disana. Aku memang tak pernah menghubungimu Arman, tapi aku masih menyimpan segala sesuatu yang berhubungan denganmu.

Arman
Aku benar-benar lunglai. Tangan lembut Gina menuntunku menuju mobil yang sudah lama menungguku. Ku arahkan pandanganku ke jendela mencoba membuang segala resah yang menyesakkan dada. Fia, apakah tadi engkau tahu jika aku mengejarmu?

Tiba-tiba hapeku berdering, sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tak bernama. Meski seolah aku tidak asing lagi dengan nomornya. “Arman, apakah ini jawaban dari suratku dulu waktu kita berpisah itu? Masihkah kau mengingatnya? Fia”.

Fia? Surat? Iya aku teringat surat dari Fia waktu itu. Namun aku tak pernah membacanya. Karena kemarahanku. Surat itu masih tersimpan di laci almari di kamarku.

Namun yang kini ku lakukan adalah segera memencet nomor Fia, aku ingin berbicara kepadanya. Namun berulang kali nomor itu ku hubungi, tapi tidak ada suara yang menyahut di seberang sana. Gina menatapku dengan penuh tanda tanya, namun aku tidak perduli.

Fia
Hapeku berbunyi berulang kali. Nama yang tertera adalah “Arman”. Namun saat ini aku benar-benar tidak ingin berbicara dengannya. Aku tidak ingin Arman mendengar ledakan tangisku jika aku berbicara dengannya. Penantian ini sudah ada jawabannya. Duapuluh lima kali sudah tertera miscall di layar hapeku dari satu nama yaitu Arman.

Arman
Fia, kenapa tidak kau angkat panggilan teleponku? Segera ku berlari ke kamar, begitu sampai rumah. Tak ku hiraukan tatapan penuh tanda tanya dari ibu dan Gina. Segera ku buka laci di dalam lemari. Tulisan tangan Fia yang rapi membuat hatiku menangis.

Untuk yang terkasih Arman
Maafkan Fia,
Fia telah begitu melukai hatimu,
Apakah Mas mau tahu alasan Fia mengapa membatalkan pernikahan kita waktu itu?
Apakah Mas mengira Fia tidak bahagia saat Mas mengucapkan kata-kata itu
Aku rasa semua wanita menunggu-nunggu untuk mendapatkan ucapan itu dari seorang terkasihnya
Namun setelah kupikirkan matang- matang ternyata aku harus memutuskan bahwa aku tidak Akan segera menikah untuk saat ini
Aku akan menyelesaikan tanggung jawabku dulu terhadap adik-adikku dan juga membahagiakan ibuku.
Aku ingin menyelesaikannya sendiri, sebelum aku harus menjalankan kewajibanku nanti sebagai seorang istri. Aku tak ingin memberatkan punggungmu dengan tanggun jawab yang seharusnya tidak kamu pikul.
Mas tahu, Ayah tiada beberapa bulan sebelum aku di wisuda bukan? Kini tanggung jawab ketiga adikku ada di pundakku.
Ijinkan aku membahagiakan mereka dulu. Meski begitu aku tidak akan mengikatmu mas, jika engkau mau menungguku aku akan sangat berterima kasih. Namun jika engkau tidak sanggup menungguku, aku akan merelakannya. Meski mungkin hatiku sangat perih.
Namun hatiku akan selalu terbuka untukmu Mas. Aku akan tetap menunggumu, hingga aku benar- benar mendengar bahwa kamu tidak sendiri lagi atau melihat dengan mataku sendiri kamu bermesraan dengan wanita lain atau aku menerima undangan pernikahanmu dengan gadis lain.
Kamu akan selalu di hatiku.
Dariku yang mencintaimu
Fia

*****end****

#cerpenromantis

Post a Comment

  1. Kisah yang haru, tetap optimis dan percaya akan kasih sayang-Nya

    ReplyDelete

 
Top