6
Koleksi Pribadi:Masjid Penyengat "Masjid Raya Sultan Riau"

Setiap melakukan perjalanan ke sini aku selalu mengubah status di BBM ku. Aku tak tahu alasan pasti. Agar dia membacanya dan mengetahui jika aku sedang menyusuri jalan kenangan yang pernah kita lalui? Mungkin. Sedang aku tahu jika dia lebih sering tidak mengaktifkan internetnya. Jikalaupun sempat mengaktifkan internetnya akankah dia membaca status BBMku? Sedang mungkin notifikasi dari sekian ratus teman BBMnya memenuhi ikon notifikasi.

Sebenarnya bukan jalan kenangan, namun sepanjang perjalanan ini penuh kenangan dengannya. Berawal ketika dia mengulurkan tanganya menawarkan bantuan kepadaku ketika akan memasuki kapal ferry. Jarak kayu tangga dan kapal yang kadang merenggang karena deburan ombak yang menggoyangkan kapal membuatku kadang ragu untuk melangkah masuk ke kapal. Dan aku ragu menatap uluran tangannya, tanganku dan tangannya yang selalu berusaha dijaga dari sentuhan lawan jenis. Dan akhirnya kuberanikan melompat tanpa menangkap uluran tangannya.


Dia berjalan di depanku, menuruni tangga menuju dek bagian bawah. “Agar dapat menatap deburan ombak,” itu alasannya memilih dek bagian bawah. Kemudian dia memilih kursi di bagian tengah, aku mengikutinya dan duduk di deretan kursi di  sampingnya. Ku biarkan dua kursi kosong memisahkan jarak diantara kita.

Dia syahdu menikmati omak yang menggulung dan sesekali menampar kaca kapal. Aku mencoba menutupi kebahagiaan berada di dekatnya dengan membaca novel Dua lelaki pilihan karya mbak Nurul F Huda. Namun entah mengapa aku tidak bisa konsentrasi. Ku coba pejamkan mata, sekilas ku lirik dia. Wajahnya masih menatap ombak yang bergelombang. Langit biru hari itu semakin menampakkan keindahan air laut. Buih-buih airnya memantulkan kilauan seperti permata, indah sekali.

Ku coba memejamkan mata. Namun tiba-tiba aku ingat sesuatu. Ayu. Temanku yang menemani perjalanan kita. Kukutuk diri sendiri karena hati tertutup kegembiraan, melupakan Ayu. Namun seketika ku teringat jika Ayu pamit untuk duduk di dek atas. Dan kenapa aku jadi sepikun ini tiba-tiba. Ayu pun seolah memberi kesempatan padaku untuk berduaan dengannya. Meski di sisi lain hatiku ada resah dan rasa yang tak nyaman dengan keadaan seperti ini.

Kulirik Alba mungilku. Sekitar tigapuluh menit lagi kapal mendarat di pelabuhan Tanjung Pinang. Ku coba memejamkan mata. Menetralkan hati yang kelewat bahagia.
“Trista, bangun,” suaranya membangunkan nyenyak tidurku. Aku terkesiap dan menatap keluar. Kapal mulai merapat ke pelabuhan. Para penumpang sudah berdiri mengantri, meski kapal belum merapat sempurna.

Kita bertiga berjalan beriringan menuju pelabuhan yang menuju Pulau Penyengat. Kapal kecil yang bisa memuat sepuluh penumpang itu akhirnya bergerak meninggalkan Pelabuhan Tanjung Pinang menuju Pulau Penyengat. Tanganku gembira bermain dengan air laut yang bisa kuraih riaknya. Lima belas menit kemudian kapal merapat. Lagi-lagi tangannya mengulurkan bantuan, berdiri di tangga dermaga dan aku di ujung pompong yang bergoyang kuat karena ombak. Kali ini tidak ku tolak. Aku begitu ngeri melihat laut yang berada di bawah kakiku. Ayu hanya tersenyum melihatku di atas dermaga.

Menaiki tangga masjid, aku dan Ayu sibuk berfoto Ria. Pengunjung tidak padat, karena bukan hari libur saat itu. Dia berpamitan untuk menunaikan sholat dhuha di Masjid kuning ini. Aku dan Ayu mengangguk, kemudian menyusulnya setelah puas berfoto ria.

Kemudian kita bertiga berjalan menyusuri pulau. Menuju makam- makam Raja-Raja kesultanan Melayu Riau. Kita bertiga tidak benar-benar berziarah di depan nisan para Raja-Raja dari kesultanan Riau ini. hanya sebentar menatap dan kemudian berjalan menyusuri jalan aspal setapak. Pada akhirnya kita bertiga istirahat di Gedung Balai adat. Sambil menikmati desiran angin pantai yang membentang di depannya.

Beberapa pedagang menjual berbagai kerajinan tangan sebagai cindera mata di pintu masuk Gerbang Gedung Balai adat. Beberapa saat kemudian dia beranjak pergi, berdiri diantara pedagang-pedagang cinderamata. Kemudain kembali lagi. Sebuah gelang seperti tiruan permata dia ulurkan untukku. Aku mengambilnya dengan ragu.

Jam menunjukkan hampir pukul 12 siang. Dia mengajakku dan Ayu untuk kembali ke Masjid Kuning “Masjid Raya Sultan Riau” untuk berjamaah sholat Dhuhur. Kita kembali dengan menyewa bentor. Tentu saja aku dan Ayu berdua. Dan dia seorang diri dengan bentornya.


“Trista, ayo segera naik,” panggilan seorang teman membuyarkan lamunanku. Aku segera beranjak menaiki kapal fery. Tujuanku saat ini sama, Pulau Penyengat, pulau yang sama kita susuri disetiap jengkal perjalanannya, 10 tahun yang lalu. (end)



Post a Comment

  1. Hmm, siapa dia mbak wid? Kepo deh aku

    ReplyDelete
  2. Hmm, siapa dia mbak wid? Kepo deh aku

    ReplyDelete
  3. Masa lalu cieee masa laluu...

    ReplyDelete
  4. oh ini cerpen ya.....saya kira catatan perjalanan, baca judulnya, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbak riawani mampir. lagi belajar fiksi mbak. tapi nggak tahu ngasih judulnya

      Delete

 
Top