5
google search

Ruangan sempit ini terasa hitam pekat, gelap. Tak ada setitik sinarpun yang kuijinkan masuk. Bahkan aku selalu menyembunyikannya dari lirikan mata siapapun. Tak pernah kuijinkan mereka barang sejenak untuk sekedar mendekat, meneranginya sekejap dengan cahaya lilin.

Belasan tahun tak terasa, hingga kemudian tiba-tiba sinar matahari menerobos ruang gelap itu dari celah-celah atap yang rapuh. Ya, rapuh. Aku kalap, aku seperti kecolongan. Aku silau menatap cahayanya. Atap rapuh tak pernah ku perhitungkan sebelumnya.

Sinar matahari selalu hadir setiap hari, menerobos di antara celah-celah atap rapuh yang semakin tak terhitung dengan jari.

Aku cemas, hatiku bergemuruh tak beraturan. Melihat matahari semakin hari semakin menelanjangi setiap sudut kamarku. Aku menggigil ketakutan di bagian sudut kamar yang masih gelap. Namun hati nuraniku berkata, matahari telah membawaku pada keindahan.


Diantara celah rapuhnya kulihat keindahan diatas sana, awan putih yang menutupi birunya langit, atau terkadang awan gelap pekat hingga kemudian rintik hujan membasahi ruang sempit ini, basah tapi menyejukkan. Tapi aku begitu menikmatinya. Aku menari di antara rintik hujan. Diantara tarianku, hatiku kembali pilu. Aku merindukan matahari menyinari kamarku.

Kini aku tak ingin menatap matahari hanya dari celah-celah atap rapuhku. Ku putuskan untuk memperbaikinya, menggantinya dengan fiber bening. Hingga aku bisa menyaksikan keindahan yang dibawa seiring kehadiran matahari. Sinar keemasan dipagi dan sore hari, kehangatan di siang hari, yang selalu membuat bayang-bayang tubuhku berubah setiap waktu.

Dan kini, aku bisa menyaksikan bintang dan bulan yang menghiasi gelapnya malam. Aku tak hanya merindui kehadiran matahari, namun aku juga merindui kepergiannya. Hidupku indah karenanya. Didalam ruang sempit itu aku berharap suatu hari nanti bisa berdampingan dengan matahari, selamanya.


Matahari dan aku, jaraknya terpancar jutaan kilometer. Kuberanikan menatapnya suatu hari, karena aku benar-benar menginginkannya. Namun mataku tak kuasa menahan sinarnya. Kini kusadari, aku cukup dipeluk dengan hangat tatap matanya. Di beri keindahan akan kehadiran dan kepergiannya. Semua itu cukup bagiku. Karena sesungguhnya aku dan matahari selalu bersatu disetiap waktu.

Post a Comment

  1. Matahari sebagai sumber kehidupan...

    Saya juga rindu matahari bund klo lg mblasuk ke hutan belantara... Rindu hangatnyaa...

    ReplyDelete
  2. tulisnnya hangat. Sehangat matahari muncul setelah hujan hehe

    ReplyDelete
  3. Judulnya bikin dag dig dug..
    Isinya bikin hati hangat, mba. Ikut merasakan keindahannya. Ini Keren.

    ReplyDelete
  4. Matahari... Menyakitkan saat berada dekat dengannya, apalagi menyentuhnya. Itu mematikan. Namun, bahagia dan penuh syukur akan sangat terasa saat berada jauh darinya.

    ReplyDelete

 
Top