29
http://infobuahmangga.blogspot.com/

      “Bu, bolehkah saya memetik mangga itu?” seorang gadis muda berusia 20 an tahun datang padaku siang itu.  Aku tak mengenalnya. Kupandang sosoknya, seorang gadis berwajah hitam manis, bertubuh tinggi sedang dengan jilbab warna hitam. Sorot matanya teduh, gigi putihnya berbaris rapi. Gamis birunya berkibar di tiup angin kencang. Gadis menarik, pikirku

Pohon mangga di depan rumahku, usianya belum begitu tua. Baru sekitar tiga tahunan yang lalu, saat aku menenempati rumah baru ini. Meski begitu batangnya sudah tumbuh tinggi menjulang kokoh, daun rimbunnya membuat rumahku semakin sejuk. Dan selalu berbuah lebat.

Anehnya, selalu hanya ada satu buah mangga yang terlihat ranum. Akhir-akhir ini banyak sekali gadis-gadis yang tergoda untuk memetiknya. Aku hanya bisa menyediakan jolok, untuk memudahkan mereka memetiknya. Kata seorang pencinta buah-buahan, pohon manggaku adalah jenis mangga manalagi istimewa. jarang di temui.

Gadis manis itu segera mencoba menjoloknya. Meskipun jolok itu sudah mengenai pas mangganya, namun mangga itu tidak mau terlepas dari tangkainya. Aneh sekali.

Aku yang duduk di bangku teras heran melihatnya. Mencoba mendekat dan membantunya. Aku pun tak bisa.


Sejenak lirih kudengar sebuah suara,”Ibu aku tak mau pergi di bawanya, dia masih begitu muda. Tolong sampaikan padanya, aku akan rela dibawanya jika dia sudah menyelesaikan studynya.” 

Mungkinkah mangga itu yang berkata-kata? Kupandangi sekeliling. Tidak ada siapa-siapa selain gadis itu yang sedang mencoba menjolok buah mangga. Kupandang mangga manalagi yang ranum itu. Aku yakin suara itu darinya. Hingga akhirnya gadis itu pergi dengan wajah kecewa.

Setiap hari selalu saja datang gadis-gadis yang mencoba mengambilnya. Setiap gadis itu mencoba mengarahkan joloknya dengan pas, memutarnya, mencoba melepaskan dari tangkainya. Selalu sebuah suara terdengar dan pesannya selalu sama. Hingga kemudian aku yakin jika itu pesan darimu, mangga manalagi yang sedang ranum.

Seorang gadis manis berkerudung lebar warna ungu datang padaku sore itu. Duduk di depanku. Kemudian mengalirlah sebuah cerita. Sudah lama dia juga tertarik untuk mengambilmu. Namun melihat begitu banyak gadis gagal, gadis itu menjadi ragu. Namun aku menasehatinya untuk mencoba memetiknya, dengan imbuhan nasehat untuk tidak kecewa degan hasil akhirnya.

Gadis itu mengambil jolok itu dengan riang, mengarahkannya pada mangga ranum di atas, mencoba memutarya. Kali ini aku tak mendengar apa-apa. Aku sedikit lega. Akankah gadis manis ini yang akan sanggup membawamu pergi?

Namun tak lama kemudian terdengar suara yang sudah ku kenali, “Dia masih terlalu muda. Aku tidak yakin jika dia benar-benar ingin memilikiku. Sampaikan padanya, jika mungkin dia hanya bersikap seperti gadis-gadis yang lainnya yang mencoba mengambilku selama ini.”

Gadis itu bermuram durja. Semangatnya turun drastis. Keriangannya entah menguap kemana. Aku tahu karena gadis itu selalu datang padaku setiap hari. Bercerita tentangmu. Kemudian menengokmu, memastikan jika kamu belum di petik dan di bawa pergi oleh gadis lain. Gadis itu berkata, jika mangga manalagiku menjadi terkenal seantero negeri.

Hingga suatu hari seorang gadis dengan kerudung abu-abu lebar. Dia memperkenlkan diri. Kemudian bercerita jika mendengar ketenaran dari mangga manalagiku yang ranum. Gadis cantik, dengan kulit putih bersih, berperawakan sedang, terlihat lembut dan cerdas dari cara dia bertutur kata.

Segera gadis itu beranjak, mencoba menjoloknya. Berulang kali memutarnya untuk mencoba melepaskan mangga itu dari tangkainya. Akuu tak mendengar suara kali ini, namun aku bisa mendengar kebimbangan hatimu untuk segera terlepas dari tangkainya. Hingga beberapa menit kemudian gadis itu belum juga berhasil. “Gadis itu sunguh matang bu, namun aku harus melihatnya sunnguh-sungguh ingin memetikku. Katakan padanya untuk sering datang kesini, aku ingin melihat kesungguhan hatinya untuk memetikku.” suaranya muncul.

Gadis itu belum terlihat lelah, namun kemudian aku menyampaikan pesanmu. Gadis itu terlihat bahagia. Wajahnya terlihat berbinar, sesungging senyum tak lepas dari bibirnya. Ia  berjanji datang lagi esok hari.


Aku menatapmu tak mengerti. Namun aku tahu pesan yang kau sampaikan. bahwa jangan tergesa gesa untuk berusaha memiiki sesuatu. Selalu ada perjuangan tanpa akhir untuk mendapatkan apa yang kita cintai. Jangan pernah menyerah. (end)


#Hanya fiksi 
#Murni fiksi

Post a Comment

  1. mbak, jadi ngiler lihat mangga nya

    ReplyDelete
  2. Pesannya keren, ngena bund.

    Semangaaat meraih kesuksesannnn....

    ReplyDelete
  3. Makna tersiratnya dalem banget, mbak.

    ReplyDelete
  4. Keren pesannya mba.. Ngena..
    Btw, baru kmren d.kasih mangga 😊
    Mangga manalagi tuh bikin ngiler mba.. Hehe

    ReplyDelete
  5. Mba Wid diam-diam menghanyutkan.. Pendalaman dan pengolahannya apik. Aku bacanya sampai tahan napas, hahaha.

    ReplyDelete
  6. Keren, pengen bisa nulis bagus kaya gini 😞

    ReplyDelete
  7. Beli mangga aja dua kg bere deh. Hihi peace. keren pesannya.

    ReplyDelete
  8. Pesannya Bagus, mba. Hebat.

    ReplyDelete
  9. renungan u/ tidak tergesa-gesa apalagi kalo belanja.. haddehhh -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, Kak Tran lucu banget. Kesimpulannya unik sendiri. Keren, keren.

      Delete
  10. Hebat nih bisa kepikiran ide kayakgitu dari mangga..

    ReplyDelete

 
Top