16
www.4muda.com

Meski nggak ada yang ingin tahu latar belakang saya dalam membuat cerita berjudul perang dalam Bahasa jawa, tetapi kali ini saya akan sedikit menjelaskan latar belakang mengapa cerpen perang itu akhirnya tercipta.

Akhir-akhir ini cerpen-cerpen ataupun puisi yang saya tampilkan di blog adalah cerpen sekali jadi tanpa endapan. Saya biasa membuatnya diantara waktu istirahat makan siang. Entah mengapa akhir-akhir ini justru saya merasa buntu untuk menyelesaikan tulisan dengan ide yang sudah terlebih dulu saya ramu. Namun justru cerpen-cerpen yang spontanitas itu saya rasa lebih baik darpada empat cerpen saya yang gagal saya selesaikan dan sekarang masih mengendap di folder pribadi.

Ide awal cerpen itu sebenarnya akan saya buat dalam Bahasa Indonesia. Tetapi kemudian terbersit di hati saya, jika ingin membuatnya dalam Bahasa jawa. Saya juga ingin menguji kemampuan saya dalam berbahasa Jawa mengingat saya yang sudah terlalu lama merantau, dikelilingi dengan teman-teman yang selalu berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia, di tambah suami saya juga bukan orang Jawa, maka keseharian Bahasa yang saya gunakan adalah Bahasa Indonesia. Dan saya tidak menyangka bisa menyelesaikan cerpen perang tersebut.


Saya juga teringat dulu masa-masa kecil, ayah saya selalu membawakan majalah Djaka Lodhang. Majalah berbahasa jawa yang selalu saya ulang-ulang membacanya jika stok bacaan tidak ada.

Sebenarnya ide tulisan tersebut amat sangat sederhana. Dan saya yakin jika saya harus menulisnya menggunakan Bahasa Indonesia, maka saya harus bisa memolesnya sedemikian rupa hingga endingnya bisa terasa “WOW”.

Ketika saya selesai publish di blog, berbagai komentar positif muncul dari teman-teman komunitas ODOP. Tentu saja saya harus jujur jika saya merasa senang mendengar komentar  mereka. Pak Parto dan Kang Heru yang selama ini tulisannya lebih sering nguri-uri kebudayaan (jawa)  saya minta untuk memberi kritik dan saran. Kemudian teman-teman yang lain terutama yang tidak mengerti sama sekali Bahasa jawa, meminta saya untuk menuliskannya menggunakan Bahasa Indonesia.

Sebenarnya tidak mudah menceritakannya kembali dalam Bahasa ndonesia. Seharusnya Bahasa interpreter yang perlu di gunakan untuk menceritakannya kembali, bukan Bahasa translate. Karena akan mempengaruhi feel dari cerita itu sendiri. Namun karena keterbatasan kemampuan saya, saya coba membuatnya dalam Bahasa Indonesia. Dan saya berharap, paling tidak teman-teman yang tidak bisa mengerti Bahasa Jawa tahu maksud dari cerita Perang versi Bahasa jawa tersebut. Meski saya rasa, feelnya akan terasa jika kita mengerti Bahasa jawa. Karena saaat saya membuatnya, saya benar-benar menginajinasikan dalam suasana “jawa”.


Akhirnya saya hanya bisa mengucapkan terimakasih atas apresiasi teman-teman semua yang telah membaca tulisan saya, terutama cerpen perang ini. Sekali lagi terima kasih. Semoga saya dan teman-teman semua selalu bisa memberikan manfaat dari setiap tulisan yang  kita buat. Mari tetap kobarkan semangat untuk menulis tiap hari.

Batam 12.40 pm

Post a Comment

  1. Yeaayy :D.. *tepuk tangan yang meriah*

    ReplyDelete
  2. Ainayya belom baca. Baca dulu ah...

    ReplyDelete
  3. ehhhh tapi itu ngomong-ngomong emang sengaja terimasakih atau typo mba wid?? hehehe

    ReplyDelete
  4. ayoo semangat menulis kk.. hehhe

    ReplyDelete
  5. Keren mba wid. Saya jd bljr bhsa jawa dari sini

    ReplyDelete
  6. Keren nih tulisannya mba wid :)
    bahasa jawa aku sendiri sedikit paham, namun terkadang mengucapkannya susah.. hehe

    Semangat buat ODOP nya (y)

    ReplyDelete

 
Top