13
sumber:www.fongsoi.blogspot.com


-Tentangmu-

Bertemu denganmu, bukan dalam mimpi. Wajahmu yang tirus, nyaris tak kukenali lagi. Wajah pucat pasi, menguarkan aroma duka yang tertahankan sejak lama. Mari ke sini. Biar kudekap lembut bahumu. Menangislah, hingga matamu yang bening tak mampu menampung lelehan airmata yang mengalir deras.

“Pagiku dingin dan beku,” katamu. Saat kau menari diantara rinai hujan pagi itu. Menyembunyikan kepingan hati yang remuk redam, senyum yang hilang dan tangisan yang tak tertahankan.

“Pagiku selalu dingin dan beku,” katamu. Ketika nyala api hidup semakin memudar. Langkahmu gontai menapaki jalan. Tubuh yang terhuyung menyangga badan. “Masihkah ada harapan?” tanyamu.

“Ada,” jawabku lantang. Lihatlah bintang gemintang. Yang tetap bersinar dimalam kelam. Atau mentari yang tetap tersenyum. Dibalik awan hitam yang tebal. Memberikan tanda selalu ada cahaya dibalik pekatnya awan.

“Tanyalah, apakah hatiku masih utuh?” katamu. Ketika kelebat bayang masa lalu menoreh luka yang mendalam dihatimu.  Bukan bercerita tentang camar-camar yang beterbangan dilangit biru. Namun tentang gulita yang memenuhi rongga dadamu. Gelap, sunyi, sendiri. Seperti jiwa lara yang telah dikubur mati.

“Hatiku telah mati,” ucapmu lirih. “Lihatlah gagak-gagak hitam beterbangan diatas sana. Tarian mereka begitu bahagia. Siap berpesta pora dengan jamuan tubuhku yang jiwanya tak hidup lagi, mati.”


-Kisahmu-dulu-

Kau merasa terhempas dalam dosa. Madumu telah dirampas paksa oleh lelaki pencinta. Lelaki pencinta yang menghempaskanmu ke jurang gelap tanpa cahaya. Setengah mati kau tapaki cadas jurang yang terjal. Jatuh bangun, hingga akhirnya kau bisa mengintip cahaya. Cahaya yang membiaskan keindahan alam. Namun jiwamu tak berasa, beku dan mati.

“Aku tak ingin hidup bersamamu,” ujarmu pada lelaki pecinta waktu itu.

“Kenapa? Aku cinta padamu,” mulut manis lelaki pecintamu berbusa.

“Aku tidak. Bukan kau lelaki yang kucinta.” Suaramu menggema. Lelaki pencintamu hanya menyeringai. Mengukir kemenangan diatas noda yang ditorehkan ditubuhmu.

Kau pun terdiam seketika. Tiba-tiba jalan ke depan terasa gelap. Hatimu koyak, sekarat dan akhirnya mati.

Kau pun harus memakamkan hatimu yang telah mati. Dihari ketika gaun putihmu seharusnya memancarkan bahagia yang tak bertepi. Kau justru berbisik, jika tubuhmu pun ingin kau makamkan bersama hatimu yang telah mati. Meski kau berharap bahwa itu semua hanyalah mati suri.

Waktu bergulir yang tak pernah kau mengerti. Hanya tangismu yang selalu mengoyak malam sunyi. Bersama mimpi-mimpi. Mimpi yang telah dirampas oleh lelaki pencinta. Hingga kau benar-benar mati suri. Sunyi, sepi, sendiri.

-Serenade cinta-

Aku tak ingin kau mati suri. Kutuliskan serenade ini untukmu. Agar bisa membangunkan dari kematian sesaatmu.

Dengarkan serenade ini. Kubuat hanya untukmu. Serenande terbuat dari not-not cinta. Cinta yang merebak memenuhi rongga hatiku. Kunamakan serenade cinta. Sekali lagi, hanya untukmu.

Dengarkan lembut alunannya yang merdu. Semoga mengalun indah dan merasuk kedalam jiwamu. Membangunkan mimipi-mimpi indah yang pernah kau ukir dikalbumu.

Aku ingin melihat kuncup bibirmu merekah, semerbak membawa kebahagiaan di istanamu. Rona mentari yang muncul diwajah manismu.

Bangunlah. Tengoklah kini, Tuhanpun tak ingin kau mati suri.  DikirimNya tiga bintang yang paling terang untuk membawamu kembali. Memberimu seberkas cahaya, hingga kau akan terlupa bahwa kau pernah ingin memakamkan tubuhmu yang tak berjiwa.

Bangunlah. Dengarkan serenade cinta yang mengalun merdu. Lihatlah tiga bintang terang yang mengelilingimu. Aku dan bintang-bintang itu akan membawamu menatap mentari yang tersenyum menyambutmu.


(end)

Post a Comment

  1. BEKU, SERENADE UNTUK LISA, mba... setiap diksimu mba mainkan dengan tepat. Ibarat sebuah lagu, hentakan musik dan lirik saling bergandeng, tak saling balap, dan tak ada yang meleset. Alunan diksimu bikin ketagihan. Emosi setiap kalimat bikin pembaca menahan nafas. Mba ga hanya semakin berani diksi, tapi semakin pandai memilih diksi. Itu kerenmu dari sudut pandangku :)

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. hahahahaha

      tulisan mbak Na hari ini, tuan salju

      Delete
    2. Saya sangat menikmati tulisan mba Wid. Suka.

      Delete
  3. Siapkan catatan untuk mengabadikan kosa kata baru yg tercipta indah ini...

    ReplyDelete
  4. Satu kata *Top* banget mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbak rai..nomor rekeningnya masih sama kan?
      hahahahaha

      Delete

 
Top