34
Source : www.pixabay.com

Ingatkah kamu dengan pertemuan kita? Pertemuan di titik rapuh. Kamu seorang perewa perangkai aksara yang sempurna. Memaknai setiap rangkaian kata dengan begitu rupa. Sedang aku wanita dengan miskin kata, terlalu naif merangkai kata-kata agar menjadi sempurna. Ketika bayang kita saling menyapa, aksaramu menembus hatiku yang mulai lara.
Kamu berubah wujud menjadi apa saja. Bukan lagi hanya sekedar perewa perangkaia kata.  Hadirmu meremah lara, luka, sedih, dan tawa bahagia yang serpihannya memenuhi rongga hatiku yang sedang menganga.
 Akan selalu ada debar di dada, menatapmu dari kejauhan. Kamu yang tak bisa kusentuh, hanya bisa menatapmu dari jauh. Matahari, kunamai dirimu kini.
Ketika sinarmu menghilang, jatuh malam, bulan bersanding dengan bintang di langit kelam. Aku di sini tertusuk sepi. Retinaku menajam memandang rindu yang menari-nari bersama kunang-kunang yang beterbangan kesana kemari. Adakah hampa begitu merajai hati? Sepi kuingini agar aku dapat bermimpi menerbangkan rindu yang mungkin tak kamu ingini.
Pagi hari sinarmu menerobos kedalam ruang pekat nan sempit yang selalu kututupi tanpa permisi. Menghangatkan hatiku yang sudah lama membeku.  Menguarkan asa pilu untuk bisa bersanding denganmu.
Pancaranmu kini mendidihkan hatiku. Mungkin juga salahku. Mataku seharusnya tak hanya tertuju padamu. Sebab ketika mataku berpusat menatapmu, kutemukan setitik bayang yang lain yang tersimpan di sana. Sembilu mengoyak batinku. Kelu, pilu, mengalir ke saraf-saraf tubuh, hingga akhirnya telaga bening membanjiri kelopak mataku.
Tiba-tiba kamu menghilang, bersama rinai-rinai hujan yang mencubit kulit tubuhku yang gigil kedinginan. Kamu begitu curang, dalam waktu bersamaan datang menghapus airmataku dengan mengalirkan hujan.
Kamu yang menawarkan berbagai keindahan, senja yang menawan, pagi yang sejuk, siang yang mendidihkan, malam yang menguarkan rindu-rindu ke langit penuh bintang, dan hujan yang selalu memelukku dalam kesejukan. Keindahan yang alunan melodinya menghasilkan balok-balok not yang berbeda. Namun menghasilkan satu nada yang indah kuberi nama cinta.

(end)

Post a Comment

  1. Matahari dan cinta ya Mbak Wid๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
  2. Keren pisan Mbak Wid, diksinya oh..

    ReplyDelete
  3. Matahari cinta, menghangatkan asa dan jiwaku

    ReplyDelete
  4. Mantap bund, nada-nada cintaa...

    ReplyDelete
  5. Mbak Wid, bagus bangettt. Diksi dan alurnya mantapppp ๐Ÿ‘

    ReplyDelete
  6. saya speechless, ma wid keren sangat sangat,lah!

    ReplyDelete
  7. Kawidd kerenn bangettt๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ’œ

    ReplyDelete
  8. kereeen, kapan kapan kita bahas pola diterangkan-menerangkan, menerangkan-diterangkan ya, biar tambah menggigit prosa liris nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyiik...dibilang keren sama orang yg kerennya sejak lahir...hehehe

      Siap..ditunggu ya...

      Delete
    2. Asyiik...dibilang keren sama orang yg kerennya sejak lahir...hehehe

      Siap..ditunggu ya...

      Delete
  9. Aah...gk tau hrs bilang apa. TOP kawid๐Ÿ˜

    ReplyDelete

 
Top