14
sumber:www.pixabay.com

Hari ini entah sudah berapa ribu tetes tinta kutorehkan hanya untuk menulis tentangmu. Jika setiap hari aku menorehkan 1000 tetes tinta saja, mungkin hari ini sudah jutaan tetes tinta kugoreskan untuk mengabadikanmu. Namun kuingat lagi, hari ini adalah hari ke 365 sejak hari pertama aku menggoreskannya. Hitung saja, mungkin sekitar 365000 tetesan tinta, semuanya mengukir tentangmu.
Tapi benarkan tetesan itu bisa kuhitung dengan sempurna? Tidak rasanya. Aku hanya mengira-ira, agar kalian bisa membayangkan betapa aku tidak pernah menunggu hingga tinta sebelumnya mengering untuk menggoreskan segala tentangmu.
Namun kamu perlu tahu, terkadang kadar tetesan tinta itu tak sama. Di hari ketika aku bahagia mengenangmu, tanganku tidak berhenti menggoreskan tetesan tinta untuk melukis indah tentangmu. Berlembar-lembar cerita terlukis disana.
Disuatu hari aku tidak menggoreskan tinta dilembaran kertas putih itu, selain hanya sebuah titik. Kamu tahu apa arti titik itu? Mungkin kamu bertanya-tanya, apakah aku kehabisan tinta? Hingga tetesannya hanya cukup untuk menulis satu titik saja?
Tentu tidak. Tetesan tinta itu keluar dari pena istimewa. Pena limited edition yang kubeli disebuah toko buku ternama, dengan harga jutaan rupiah. Tintanya pun selalu siap sedia disana. Pena itu istimewa, tetesan tintanya hanya kugunakan khusus untuk menorehkan cerita tentangmu.
Jadi kenapa aku hanya menorehkan satu titik dilembar kertas putih itu? Mari sini kuberitahu. Ketika ceritaku hanya berisi satu noktah hitam itu, itu disebabkan karena aku tidak bisa bercerita lagi tentangmu. Bukan karena aku sudah melupakanmu. Semua karena begitu membuncahnya isi hatiku. Aku tidak bisa mengendalikan aliran kata yang keluar dari otakku, aliran yang begitu cepat. Mungkin kecepatanyya 360km perjam. Jemariku tidak bisa mengimbanginya untuk menerjemahkan dalam rangkaian kata. Hingga kemudian aku hanya bisa menggambarkan setiap aliran kata-kata indah itu dalam sebuah titik. Titik itu adalah kamu, dan lembaran putih itu adalah hatiku. Kamu seperti itu. Ketika kamu hadir dihatiku, pusatku hanya kamu. Memenuhi ruang sempit dihatiku.
Tadi pagi aku bertanya pada penaku, apakah dia lelah menorehkan tintanya untuk mengabadikanmu? Kata-kata apa yang membuatnya bosan ketika jemariku menggerakannya untuk melukiskanmu? Pena menjawab jika dia tidak pernah lelah dan bosan. Bahkan ada satu kalimat yang membuatnya tetap bahagia, meski mungkin kalimat itu sudah tidak terhitung berapa jumlahnya ia torehkan. Tahukah kamu kalimat apa yang disukai penaku? Kalimat itu adalah “aku cinta kamu”. (end)


#Inspired by “You”

Post a Comment

 
Top