0
Sumber:googlesearch


Selalu terperangah. Kemudian, hanya bisa terdiam menyimak. Terduduk di sudut ruang, menjadi penonton. Menghilang dari peredaran.  Serasa langit dan bumi. Menilai diri, merunduk malu. Bukan karena dia bilang “I love you”. Tetapi, penyesalan karena tidak mencintaimu sedari dulu.
Kembali ke masa lalu. Waktu berlalu tiada tentu. Mimpi yang selalu menguap. Waktu berlalu tiada tentu. Menua, mimpi yang semakin samar dalam bayang awan. Sang pencintamu, tetap melangkah maju. Aku masih tersudut di ruang yang sama. Mencintaimu, masih dengan setengah nafasku.
Tak akan melekat, jika kutak mendekat. Tak akan melekat, jika tak terbiasa membersamaimu. Kamu yang tak akan pernah meninggalkanku, meski begitu banyak yang mengerubungimu, memilikimu. Cintamu yang selalu kamu bagi untuk mereka. Mereka pergi. Namun, kamu tetap utuh dan justru semakin bertumbuh, untukku.
Kusadari, aku lebih sering melupakanmu.  Berpaling, mengejar yang lain. Kamu tetap setia. Tertawa, bahagia. Kamu bilang, “Kejarlah, milikilah. Aku justru merasa lebih bahagia. Karena kamu akan mengenal dunia.”
Aku berkata,”Baiklah. Aku akan mengejarnya. Membersamainya. Menempatkan mereka bersamamu. Aku tak ingin hanya terperangah. Terduduk di sudut ruang. Dan maafkan, jika aku akan selalu mengejar yang lain, yang lain, yang lain. Karena, semakin aku mengenalmu, mengenal mereka, aku semakin tahu jika aku harus mengejar yang lain dan yang lain, agar mereka lekat sepertimu.”
Kamu tersenyum dan mengangguk pasti.

Dalam hati ku berkata, ”Terimakasih ilmu. Tanpamu aku masih dungu, pun denganmu ku semakin merasa dungu. Aku ingin mencintaimu selalu, agar kamu lekat di diriku.”(End)

*Ilmu pengetahuan

Post a Comment

 
Top