0
google search
Zaman kecilku bisa disebut zaman old. Zaman di mana belum ada gawai. Yang ada hanya anak-anak berkumpul di tanah kosong selepas pulang sekolah, bermain gobak sodor, main engklek, main cublak-ublak suweng, main petak umpet, main dakon dan masih banyak lagi permainan yang bervariasi setiap harinya yang dilakukan hingga sore menjelang magrib. Setelah puas bermain kita sholat magrib di mushola kemudian dilanjutkan mengaji hingga isya.
Dulu, di kampung kami yang punya televisi hanya satu orang, mbah Imam, salah satu orang yang paling kaya saat itu. Setiap malam minggu kami berkumpul untuk nonton siaran televisi hitam putih hingga acara televisi selesai. Waktu itu saluran televisi yang ada hanyalah TVRI. Jika dibandingkan dengan acara televisi zaman sekarang, waduh, pasti acaranya membosankan sekali. Tapi saat itu, menonton televisi bersama-sama merupakan suatu kebahagiaan tersendiri dan merupakan acara istimewa yang ditunggu-tunggu.
Zaman kecilku juga dihiasi kenangan tentang bapak. Bapak itu suka banget bercocok tanam. Kebetulan halaman depan, samping dan belakang itu luas banget. Dan bapak menanami setiap jengkal tanah dengan berbagai macam jenis tanaman buah-buahan. Di halaman depan berdiri pohon mangga manalagi yang buahnya selalu lebat. Kami selalu menunggunya masak di pohon. Di salah satu dahannya itu juga bapak membuatkan kami ayunan. Selain mangga, berdiri kokoh pohon jambu bangkok, pohon jambu merah, pohon melinjo, pohon belimbing, pohon jeruk manis, pohon jeruk nipis, pohon durian belanda. Di samping rumah ditanami berbagai macam keperluan dapur, ada cabe rawit, jahe, terung, tomat, pohon labu dan juga sawi.
Di bagian belakang rumah, ada pohon mangga, nanas, pohon nangka, kelapa, melinjo, papaya, pohon ceri, pohon jambu monyet dan berbagai macam pohon lainnya. Setia jenis yang ditanam itu tidak hanya satu batang saja. seperti pohon jambu Bangkok, ada sekitar 10 batang pohon jambu Bangkok yang berdiri kokoh.
Dan yang lebih menggelikan lagi, pohon jambu monyet. Hampir setiap bagian rumah kami berdiri pohon jambu monyet. Dan ketika musim ulat tiba, pohon itu hanya akan dipenuhi ulat bulu yang besar-besar dan berterbangan kemana-mana. Sudah tahu kan gimana rupa ulat bulu jambu monyet? Tubuhnya sebesar jari kelingkin, bergaris-garis, bulu-bulunya panjang. Bisa dibayangkan jika itu memenuhi hampir semua bagian halaman rumah kami, bahkan sering masuk ke rumah terbawa angin.
Namun, selain ulat-ulat yang mengerikan itu, kami juga bisa menikmati biji mete yang dibakar di bara tungku, kemudian untuk mengeluarkan isinya, setelah biji mete itu masak kami pukul dengan palu atau batu. Dan bisa dinikmati biji mete bakar alami yang gurih dan lezat.
Itu sekelumit kenangan masa kecilku yang hingga kini nggak pernah kulupakan. Kenangan yang selalu mengingatkanku tentang sosok Bapak yang selalu kurindu. (tamat)
#30DWC
#OneDayOnePost

#Day19

Post a Comment

 
Top