“Jadi kau benar-benar akan meninggalkanku? Kau sungguh tega?” suaramu
sungguh terdengar kacau. Hatiku pedih. Rambut hitam lurusmu yang mulai menutupi
leher terlihat acak-acakan. Namun, wajahmu masih terlihat tampan, meski sendu
memenuhi setiap garis-garis wajahmu. Kauusap wajahmu kemudian memandangku yang
terdiam dengan tajam. Aku menunduk, mencoba mengalihkan tatapan elangmu yang
kini mungkin terlihat sedikit layu.
Aku masih terdiam, sunyi di antara kita. Aku sudah bulat dengan
keputusanku ini. Meski aku menyayangimu, sungguh, keputusan
ini harus kuambil. Aku mungkin terlihat bodoh, meninggalkan semua kenyamanan ini dengan alasan
yang “tidak masuk akal.” Namun, aku adalah aku. Tak akan kuijinkan oranglain
mengontrol hidupku seolah-olah tidak bisa hidup tanpanya.
“Baiklah, kalau kaumemang sudah memutuskan itu. Aku bisa apa. Meski katamu
kau menyayangiku.” Suaranya terdengar parau. Tangan kanannya mengaduk-aduk
secawan es campur, menyendoknya perlahan, mengecapnya seolah tanpa
rasa.
“Bahkan es campur kesukaanku ini sekarang tawar sekali rasanya.” Andai boleh
aku ingin menghentikan tangannya dari mengaduk es campur, mengenggamnya erat,
memberikan aliran kekuatan agar kau tetap semangat saat kutinggalkan. Tapi selama
dua tahun hubungan kita ini, aku tak pernah berani menyentuhmu, kecuali mungkin
sesekali menepuk bahumu memberi kekuatan. Kita lebih banyak bercengkerama,
menertawakan kebodohan kita di antara kesibukan kerja. Semua itu menjadi
penawar melewati setiap deadline yang tertulis di depan mata, diantara post-it - post-it yang tertempel di dinding kubikel kita.
Meski kita dekat, mungkin kau tak sepenuhnya mengerti.
“Kau pasti bisa melewatinya tanpaku, Bram. Kita masih bisa bercerita. Buat
apa kita punya kuota data atau pulsa jika tidak kita gunakan saling menyapa?” Aku
akhirnya mencoba menenangkannya. Sedikit sinar cerah terpancar dari matanya
yang bulat. Aku sesekali suka mencuri pandang wajahnya yang tampan, kulitnya
yang bersih, rambut hitam yang rapi tersisir, hidungnya yang lumayan mancung
untuk ukuran orang Indonesia, garis rahangnya yang kokoh. Tubuhnya yang ramping
untuk ukuran lelaki, katanya berat badannya hanya 56 kg. Aku sempat ternganga. Tinggiku
hanya sebatas lehernya. Aku jarang menatapnya saat kami jalan beriringan dan
asyik bercerita. Leherku akan terasa capek, aku pernah mencobanya sekali.
“Tapi tetap beda jika kau tak ada di sana, Alona.” Suaramu terdengar
merajuk.
“Apa kau suka jika aku selau dijadikan kambing hitam sama bosmu itu? Mending
jika itu tanggung jawabku, tetapi ini sudah diluar job responsibilityku, Bram. Aku nggak bisa tolerir lagi.”
“Lalu kamu menyerah.” Kau mencoba memprovokasiku.
“Aku sudah berusaha selama dua tahun, Bram. Dan itu mengacaukan hidupku.”
Jawabku lirih. Ada rasa perih saat mengucapkannya.
Kau hanya terdiam. kemudian kau berdiri, dan spontan aku mengikutimu. Kemudian kita jalan beriringan.
Kau tiba-tiba berhenti sebelum kita sampai di parkiran.
“Tapi rasanya tetap beda, jika kau tak di sana, Alona.” Rajuknya lagi.
“Malas ah, kaupun sebentar lagi juga akan meninggalkanku. Bukankah
wanita pilihan ibumu sudah menanti di kota kelahiranmu?”
“Alona! Jangan ungkit-ungkit itu lagi. Kau tahu sepenuhnya siapa yang
akan kulamar jadi istriku.” Suaramu terdengar tidak terima dan aku hanya bisa
tertawa. Aku suka melihatmu salah tingkah jika sedang kugoda. Dan aku tahu
semuanya akan baik-baik saja meski aku tak di sana lagi, Gedung tua penjara ternyaman
yang pernah kunikmati.(end)
Wah berakhir seperti itu kayak kenyataan hidupku😡
ReplyDeleteSo romantic! Kisahnya asik. Jadi mengingatkan jaman masih muda dulu. Ehehe
ReplyDeleteKunjungan perdana.. salam kenal ya mbak Wiwid.. semoga bisa sering2 mampir kesini.. ^^
ReplyDeletePengen buka blog satunya, tapi entah mengapa (sepertinya karena snyal XL yang letoy) ga bisa kebuka.
ReplyDeleteJadi baca tulisan ini deh, dan merasa bahagia membaca kisah romantic hahaha
slam kenal mbag wiwid. ehm.. ehm.. malam malam baca kisah romanti yang sedikit mengganggu ku. pas sampai kata hidug mancung sepontan aku megang hidung, keingat hidung mininimalis ku. eh endingnya keren ya sudah ada calon ternyata. em mbag ini maaf aku sotoy, coba deh kwikku ada lomba tulis novel di sana hadiah gede. mbag nya berbakat banget dah!
ReplyDeleteud nggak aktif ya, blog ini
ReplyDeleteOh ternyata Alona ngambek karena Bram sudah dijodohkan sama ibunya di kota kelahirannya ya.😀
ReplyDeleteCerpen yang bagus kak, salam kenal ya.
Fabulous blog
ReplyDeletePlease read my post
ReplyDeleteRomantisme
ReplyDeleteSelamat Tinggal buat Masa Lalu dan Selamat Datang buat Masa Yang Akan Datang
ReplyDeletehttps://play.google.com/store/apps/details?id=asro.yoi
ReplyDeleteMantab
ReplyDelete