Skip to main content

Posts

Showing posts with the label CERPEN

Sandal Jepit

sumber : www.steller.com “Kamu kemana selama ini?” tanyamu hati-hati. Binar matamu menatapku tajam, penuh kasih. “Sandal jepit,” jawabku asal-asalan. Aku tak bermaksud menjawab pertanyaanmu. “Apa? Sandal jepit? Apa maksudmu, aku tak paham?” tanyamu lagi sambil memegang pergelangan tanganku. Matamu kembali tajam mencoba menembus iris mataku. Aku hanya menunduk. Aku tak ingin kamu telanjangi aku lewat tatapanmu. Aku menggeleng lemah kemudian berkata,”Tidak. Aku hanya sedang sibuk dengan beberapa deadline yang harus kuselesaikan.” Kupalingkan wajahku dari tatapanmu. Sungguh, aku tahu jika kamu bisa membaca semua yang kurasa dari pancaran bola mataku. Kita bukan baru saja berteman, hitungan purnama telah selesai kita hitung. “Ada apa? Kamu tidak biasanya seperti ini. Tengoklah, rumahmu penuh debu dan jelaga. Kenapa kamu sekarang seperti ini? Biasanya kamu paling cerewet ketika debu mampir ke dalam rumahmu.” Tanyamu penuh selidik. Aku mengerti, ini bukan aku sebenarnya dan k...

Labirin

www.pixabay.com Ruang ini sunyi, tak ada suara sama sekali. Gelap dan senyap. Tak kudengar suaramu lagi. Kau di mana? Kususuri lorong ini, lorong yang berubah menjadi sebuah labirin. Biasanya kita suka bermain di sini. Menyelesaikan puzzle labirin, hingga akhirnya kita tertawa bersama saat bertemu di pintu keluarnya. Kakiku melangkah perlahan, tak kutemukan dirimu, pun jalan keluar. Aku tersesat, untuk pertama kalinya labirin ini berubah menjadi sebuah lorong seperti lorong menuju kematian. Hari berubah gelap. Bukan, bukan hari yang akan berubah senja. Mendung bergulung di langit sana. Biasanya kau akan bercerita tentang hujan yang kaurindu. Tentang hujan yang kautunggu? Lalu di manakah dirimu? Kembali kususuri labirin ini. Rumput tinggi menjulang di kanan-kiriku. Yang kutemui hanya lah lorong-lorong buntu. Mendung bergelung menjadi tetesan airmata langit yang membasahi tubuhku. Biasanya kita akan menari-nari di bawah rinai hujan itu, tetapi kini aku menggigil sendiri, tanp...

Sebuah Tulisan dari Judul Tulisan

www.pixabay.com Pandangan mataku terganggu oleh sosokmu, bagiku kamu seorang sosok yang unik. Entahlah. Kamu yang hanya beralaskan sandal jepit tua . Aneh, di zaman era begini ketika orang-orang menomorsatukan penampilan, kamu melenggang enak dengan sandal jepit tua yang sudah menipis, di antara sandal-sandal kulit yang berdesakan di depan panggung. Siapakah kamu? Tanda tanya memenuhi benakku, saat aku menonton opera biawak yang di adakan oleh mahasiswa  teater Institut Seni Indonesia pada malam minggu di halaman balai gedung walikota. Atau mungkin kamu adalah salah satu anak ISI? Kepalaku menggeleng tak mengerti mengapa diri ini bertanya tanya. Kualihkan pandanganku ke atas panggung.  Buaya, harimau, gajah, anjing, hingga kecoa berperan apik di opera biawak kali ini. Mereka semua menampilkan peran yang luarbiasa. Aku dan Edwin , salah satu teman dikala rawan, melangkah beriringan menuju halte di depan  gedung balai Walikota berharap masih ada angkot yang b...

Kamu dan Ikan-Ikan Berenang

www.id.aliexpress.com Sudah beberapa minggu ini rumah bisu membeku, tetapi terasa panas di dalam. Tidak setiap hari tepatnya, hanya di akhir-akhir minggu. Kebisuan akan terus menyelimuti rumah ini. Semuanya disebabkan hanya karena aku merasa kesal karena kamu tidak mau mendengar perkataanku. Jumat pagi, pertengkaran itu selalu dimulai. Sabtu pagi rumah ini sepi. Namun, hawa panas menyelimuti.  Kamu memang lelaki keras kepala. Sudah beberapa kali dibilang, jika tidak perlu pergi memancing lagi. Ikan sudah tidak ada. Mereka semua sudah terbang ke langit. Kamu mengataiku gila. “Mana ada ikan terbang ke langit?” katamu sambil mendengus kesal, kemudian menyeruput segelas kopi hitam sebelum pergi berangkat memancing pagi itu. Aku tinggalkan dirimu melangkah ke kamar. Kudengar pintu depan dibanting dengan keras. Kamu pergi, mungkin dengan dada yang mendidih. Pada suatu petang, ketika aku menyembelih ikan yang kamu bawa pulang. Ikan dengan mata lebar, menatapku tajam. Besarnya ...

Sepenggal Impian

www.goodreads.com Sesungguhnya Engkau tahu, bahwa hati ini tlah berpadu Berhimpun dalam naungan cinta-Mu Bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan Menegakkan syariat dalam kehidupan Lapangkanlah dada kami, dengan karunia iman, dan indahnya tawakal pada-Mu Kuatkanlah ikatannya, tegakkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya Terangilah dengan cahya-Mu, yang tiada pernah pudar Ya robbi bimbinglah kami (Doa Rabithah, Izzis)  Nasyid Izzis masih menggema memenuhi ruangan, kulihat dia tertidur di sofa. Wajahnya masih terlihat ayu, meski ada guratan kelelahan yang menghisainya. Aku tahu, bukan sengaja dia tertidur. Pasti nasyid itu -nasyid favorit kami- diputar berulang kali untuk menemani kebosananya menungguku  pulang. Waktu memang telah merangkak menuju pagi, jam dinding telah menunjukkannya. Jarum pendek dan jarum panjang yang bertemu diangka satu.  Ku dekati dia, tanganku membelai wajahnya lembut. Wajah ayu yang kuambil dengan sebuah ikr...

Urombo*

www.pixabay.com Tubuhmu terlonjak. Jantungmu terdengar berdetak lebih cepat. Hening sejenak. Tangan kananmu mengelus dada berharap debaran jantungmu mereda dengan cepat. Suara hempasan pintu yang dibanting beberapa saat lalu, mengejutkanmu. Beberapa detik kemudian kamu kembali asyik bersamaku. Melintasi batas dan terbang ke dunia lain yang kamu ciptakan. Kembali suara hempasan pintu yang dibanting sangat keras mengejutkanmu. Kali ini bukan saja membuat tubuhmu terlonjak, tetapi membuat jantungmu berdetak berlipat-lipat kali dari sebelumnya, sepertinya nyaris terlepas, wajahmu meringis, mungkin kini terasa nyeri. Kamu tepuk-tepuk dadamu berharap reda. tubuhmu bangkit dengan raut wajah memerah. Membuka pintu ruang kerja, melongok keluar berharap menemukan sosok lain yang telah berani membanting pintu dan membuyarkan konsentrasimu. Nihil. Rumah luas, peninggalan orangtuamu itu terlihat sepi. Tak kamu temukan sosok lain selain dirimu. Kembali kita duduk berhadapan. Kamu reguk ...

Semangkuk Soto untuk Mamak

www.kuliner123.com Dering telepon menggetarkan samsung putih milik Ramdhan. Esih yang sedang asyik menyetrika hanya menatap sekilas, kemudian memanggil nama suaminya.  Lelaki kurus, berkulit gelap dengan tinggi tubuh menghampirinya riang.        Dengan nada gembira Ramdhan menerima panggilan telepon tersebut.  Esih masih sibuk menyelesaikan pekerjaan ketika Ramdhan mendekat dan berkata jika Mamak mertuanya akan berkunjung sore ini. Rasa cemas menggelora di hati Esih. Berita itu seperti guruh yang menggelegar, terdengar begitu menakutkan. Segera dicabutnya colokan setrika. Menata kembali baju-baju yang menggunung ke dalam keranjang cucian. Diedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Mamak ingin soto, Sih,” ujar Ramdhan pelan.        Esih hanya melongo. Soto. Makanan yang paling dihindarinya. Terakhir kali Esih makan soto ketika SMA. Namun, beberapa jam setelah Esih makan soto tersebut dia harus di rawat inap...

Runtuhnya Kerajaan Telebele

www.pixabay.com Jalanan utama di Kerajaan Telebele terlihat penuh sesak setiap sore. Rakyat bersuka cita mempersiapkan waktu berbuka. Berbagai makanan lezat terhidang di bawah tenda-tenda kecil yang berjejer rapi di kanan kiri jalan utama. Petugas keamanan siap siaga berdiri ikut mengawasi kegiatan di sana. Kerajaan Telebele terkenal sebagai kerajaan yang makmur. Rakyatnya hidup sejahtera dan Kerajaan Telebele selalu aman damai sentosa. Terbukti di bulan Ramadhan seperti ini, hampir semua dagangan tandas habis terjual tak bersisa. Hal itu membuktikan jika rakyat Kerajaan Telebele mempunyai daya beli yang cukup tinggi. Rakyat Kerajaan Telebele hanya menganut satu agama. Agama yang mewajibkan mereka untuk menunaikan sholat lima waktu. Ketika ritual menjelang senja rakyat Telebele tumpah ruah memenuhi jalanan utama, mereka juga rajin melakukan sholat berjamaah di Masjid megah yang menaranya berlapis emas untuk melaksanakan sholat jamaah magrib, isya dan tarawih. Ketika senja t...

Kamu Menemukanku

www.id.wikipedia.org Aku tidak tahu bagaimana caranya kamu bisa menemukanku. Rasanya dunia sudah kukunci untukmu, agar kamu tidak bisa masuk lagi ke dalam duniaku. Tak ada lagi kontak mu di hapeku, di semua akun medsos.  Hanya namamu tersimpan di sini, di dalam hati. Namun, sudah lama kucoba menguburnya. Mengikuti berbagai macam komunitas, aktif di dalamnya. Hingga tak ada waktu lagi untuk memikirkanmu barang sesaat. Tapi nyatanya, sosokmu pagi ini berdiri tegap di depan kamar kostku. Sesungging senyum hadir di wajahmu yang teduh. Pancaran binar bola matamu masih seperti dulu, menatapku hangat dengan kilatan cahaya penuh kasih dan keriduan. Sosok tinggi dengan potongan rambut tipis, lesung pipit yang menghias pipi jika kamu tersenyum, kaos oblong dibalut kemeja yang kancingnya kamu biarkan terbuka, celana jeans warna biru dan tas ransel warna hitam menghias punggungnmu. Aku terhenyak dan terpaku. Hingga aku lupa mempersilahkanmu duduk di beranda kamar kostku. “Kenapa meng...

Lelakiku Seorang Penulis

www.romeltea.com Bagaimana aku tidak bangga padanya. Dia seorang penulis ternama. Tidak terlalu ternama sih. Namun, paling tidak teman-teman facebooknya mengenal dia sebagai penulis karena beberapa karyanya sudah sering dimuat di media massa ternama di negeri ini. Kopi hitam kuseduh untuknya, sebelum aku meninggalkan rumah untuk mengajar di salah satu Sekolah Dasar swasta. Dibubuhi dengan senyum manis dan cinta tulus dariku, aku berharap idenya selalu mengalir lancar. Setelah menyesap kopi, langkah tegapnya menuju honda beat merah, menekan tombol starter kemudian aku naik di atasnya. Dalam diam dia mengantarkanku hingga depan gerbang sekolah, perjalanan yang menempuh waktu hanya limabelas menit. Dia sering berkata jika ide selalu bisa datang darimana saja, maka aku tidak pernah mengganggu konsentrasinya, siapa tahu dalam perjalanananya mengantarkanku ke sekolah dia menemukan ide untuk dijadikan bahan cerita. Hal itu pernah aku sampaikan padanya di suatu hari. Ketika aku her...

Kereta Kencana

sumber : www.tokoantiekretro.blogspot.com Kereta kencana menjemput, di depan gerbang rumah ia terhenti. Aku terdiam mendekat, sedikit ingin mengetahui karena warna keemasannya seolah menjadi magnet sendiri untuk dihampiri. Ini semua seperti mimpi, ketika tubuhku ringan melayang mendekati. Kemudian, menaiki kereta kencana tanpa ragu lagi, meski masih ada tanya kemanakah kereta kencana ini akan membawaku pergi? Sang pengemudi hanya mematung di belakang kuda sembrani. Tanpa kata bahkan menoleh barang sejenak, menengok penumpang dan memastikannya telah nyaman di belakang kemudi. Mulutku bahkan enggan bertanya, meski hatiku bergejolak ingin tahu pasti. Kereta kencana masih terdiam, ketika tiba-tiba ingatanku melayang. Aku belum berpamitan kepada ibu dan ayah tersayang. Mulutku tergerak untuk bertanya, mungkinkah masih ada kesempatan untuk berpamitan kepada orangtua tercinta. Kepala pengemudi menggeleng. Suaranya terdengar di telinga dan berkata jika tidak ada waktu lagi, kereta k...