5
Hal-hal apakah yang membuatmu bangga terhadap anak-anakmu, wahai para orang tua? Mungkin para orang tua akan memberikan jawaban yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dan sebagian besar para orang tua mereka akan bangga jika anak-anak mereka menjadi juara satu dikelasnya,
Tidak ada yang salah dengan kebanggan dari masing-masing orang tua atas juara kelas anaknya. Tetapi sekarang yang di pertanyakan, bagaimana dengan orang tua yang anak-anaknya tidak bisa menduduki ranging 1,2 ataupun 3 di kelasnya? Apakah harus malu dan memarahi anaknya?
Seharusnya tidak, wahai para orang tua. Karena di manapun kompetisi itu hanyalah 1 yang menjadi pemenangnya. Jadi tetaplah memberikan semangat bagi anak-anak kita. Kita harus melihat terus dengan bangga pada anak-anak kita, karena Allah telah memberikan keunikan-keunikan sendiri kepada anak-anak kita. Kita sebagai orang tua harus pandai memandang secara luas kelebihan anak-anak kita. Karena sebenarnya anak-anak kita telah Allah karuniakan dengan hal-hal yang sangat menajubkan
Saya pribadi tak pernah mempermasalahkan anak akan mendapat rangking berapa di sekolahnya, saya hanya menekankan kepada mereka untuk disiplin belajar di waktu yang telah di sepakati di hari-hari sekolahnya. Jadwal anak rutin setiap harinya dimulai ketika adzan magrib, setelah melaksanakan sholat, mengaji dan setor hafalan. Setelah selesai dilanjutkan belajar hingga pukul 8 malam. Cukup hanya sampai jam 8 malam. Setelah itu acara makan malam dan bermain. Dari hal sekecil ini saya sudah merasa bahagia ketika anak-anak sudah disiplin dan menjalankan jadwal yang sudah di sepakati.
Beberapa waktu lalu kedua anak saya yang sudah bersekolah sibuk merengek kepada saya untuk minta di leskan, les pelajaran sekolah dan les mengaji. Namun dengan tegas saya tolak keinginan mereka. Anak pertama pun menjawab dan bertanya “Ummi teman-teman lain ikut les lho, abang juga ingin seperti mereka. Memangnya kenapa ummi, Abang nggak boleh les?  Kemudian saya jawab, “Les itu harus bayar bang, itu berarti harus ada tambahan anggaran uang yang harus ummi keluarkan. Dan ummi pengin yang ngajarin pelajaran dan mengaji itu ummi, agar ummi tahu sampai mana kemampuan kalian”. Ketika akhirnya mereka bisa mengerti dan tidak lagi menawar umminya , hal ini juga membuat saya bahagia.
Lain waktu ketika saya benar-benar kecapekan akan pekerjaan kantor yang sedang sibuk-sibuknya. Habis selesai waktu isya, biasanya saya pamit sama anak-anak untuk tidur terlebih dahulu barang sejam. Anak sulung saya lalu berkata, “Nanti di bangunkan jam berapa ummi? Kemudian anak kedua saya –seorang gadis- akan berusaha menata rumah yang belum sempat saya rapikan. Anak kedua saya ini juga selalu berkata, “ummi nanti kalau mbak hilwa sudah besar (sudah tinggi) mbak hilwa yang akan cuci piring, akan bantu ummi menjemur baju. Dan kemudian anak Bungsu saya akan bertanya kepada saya “ mana ummi yang capek, biar adik pijit”. Hal-hal kecil yang mereka ucapkan dan lakukan secara spontan dan tulus dari hati mereka  sungguh membuat saya bahagia.
Atau jika saya sedang marah, anak-anaklah yang akan mengingatkan. Biasanya anak sulung dan anak kedua akan berkata”Ummi ni marah-marah saja” dan anak Bungsu saya berkata” jangan marah-marahlah ummi” atau “bilang baik-baiklah sama adik”. Hal –hal kecil yang sungguh membahagiakan saya.
Jadi kebahagiaan bagi saya, ketika anak-anak bisa mengerti keadaan umminya, keadaan keluarganya. Punya empati yang bagus terhadap sesamanya. Masih banyak PR saya untuk masa depan mereka. Dan saya tidak mewajibkan mereka untuk menjadi selalu yang nomor satu, meski mungkin itu akan membuat saya semakin bahagia. Tetapi ketika mereka tidak bisa mencapainya, saya tidak akan membebankan kepada mereka. Bagi saya keberhasilan mereka saat ini ataupun kedepannya bukan di ukur dari nilai-nilai yang tertulis di raport mereka. Tetapi ketika mereka punya impian masa depan, dan mereka punya peta yang jelas untuk meraihnya. Sayalah yang bertanggung jawab menuntun mereka meraih impiannya itu dan tetap mengingatkan mereka untuk tetap berjalan dan bertaqwa di jalan Allah.(Bersambung)


Tulisan ini saya dedikasikan untuk ketiga buah hati saya : Ammar, Hilwa dan Hilmi. 
Next
Newer Post
Previous
This is the last post.

Post a Comment

  1. Masya Allah ummi wiwid, saya sependapat dengan ummi wiwid. doakan semoga saya bisa mengikuti jejek ummi, menjadi madrasah bagi anak-anak meskipun ada kesibukan lain ... semangat ummi wiwid, semoga diberikan keberkahan dan anak-anak yang sholeh sholehah. Aamiin.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. terimakasih mbak miftahul Rohmah sudah mampir
    ammiin semoga kita semua menjadi ibu yang baik..

    ReplyDelete
  4. terimakasih mbak miftahul Rohmah sudah mampir
    ammiin semoga kita semua menjadi ibu yang baik dan tauladan bagi anak-anak kita..

    ReplyDelete
  5. terimakasih mbak miftahul Rohmah sudah mampir
    ammiin semoga kita semua menjadi ibu yang baik dan tauladan bagi anak-anak kita..

    ReplyDelete

 
Top