3


Sumber : Google
Mendung menggelayut sejak senja menjelang. Adzan magrib di kumandangkan diiringi dengan suara petir yang bersahut-sahutan. Si sulung seperti biasa berpamitan pergi ke masjid. Aku hanya mengiyakan tanpa perasaan was-was. Sholat jamaah di masjid belum usai, ketika hujan turun dengan lebat. Aku di rumah beserta si tengah dan si bungsu mengerjakan aktifitas seperti biasa. Mengaji dan belajar.
Hujan di luar masih lebat, angin kencang mengiringinya. Hingga dentang waktu pukul 8 malam, Hujan belum juga reda. Aku mulai gusar, bagaimana dengan si sulung yang sedang di masjid? Biasanya jam 8 malam pintu masjid sudah terkunci. Dan abi si sulung sedang tugas ke luar kota.
Ku pandangi jalanan diluar sana, sepi. Tak ada seorangpun menginjakkan kakinya diluar sana. Hujan masih mengguyur dengan lebat, diiringi kilatan-kilatan petir. Aku semakin gusar. "Sulungku, dimanakah kamu?" Batinku merintih sedih.
30 menit berlalu dari jam delapan malam. Segera ku bergegas mengambil payung dan mantel. Ku titipkan si bungsu dan dan si tengah ke tetangga sebelah. Ku telusuri rumah teman-teman dekat si sulung. Nihil. Aku menatap jalanan yang lengang. Hanya hujan lebat yang menemaniku. Ku berhenti di tengah jalan yang lengang. "Sulung, di manakah kamu" getir hatiku semakin khawatir. Aku menangis. membayangkan sulungku entah tidur di mana, dengan siapa dan bagaimana. Meski hatiku juga berdoa, semoga ada orang baik yang mau mengantantarkan sulungku pulang.
Dalam kesunyian di tengah hujan lebat, aku merenung. Meski terkadang kami bertengkar, karena si sulung tidak sependapat denganku. Aku tak sanggup kehilangan dia. 
Lalu pikiranku melantur kemana-mana? Bagaimanakah dengan bayi-bayi yang di buang di got, di Tong sampah. Bagaimanakah anak-anak yang di telantarkan ibu mereka? Bagaimanakah perasaan ibu yang melahirkannya? sungguh tidak adakah sama sekali rasa belas kasihan di hatinya? membayangkan seorang bayi mungil  yang menggemaskan entah nasibnya bagaimana hanya karena sepotong rasa malu pada manusia, tidak pada Tuhannya. Jika aku kehilangan "Sejenak" anak sulungku yang sudah bisa berbicara, sudah mengetahui alamat rumahnya, sudah mengetahui nama orangtuanya saja aku begitu khawatir kehilangannya? lalu aku sungguh tak mengerti dengan perasaan-perasaan ibu ataupun orang tua yang begitu saja menelantarkan bayi-bayi ataupun anak-anak mereka. Sungguh aku tak tahu bagaimanakah hati mereka.
Ketukan pintu menyemangatiku. Ku tengok jam dinding, 30 menit berlalu dari jam 10 malam. Si sulung di depan pintu dalam keadaan tak kurang apa. Aku bahagia.Dan rasanya ingin ku dekap anak-anakku dengan erat selalu.


#ODOP minggu kedua



Post a Comment

  1. Aku sampai bisa membayangkan dan merasakan dag dig dug nya... buah hati kita adalah amanah... mantaap mba teruskan dengan inspirasi yang lainnya...

    ReplyDelete
  2. Nice share mba. Diksinya bagus. :) Alhamdulillah si sulung gak kenapa2 ya. :)

    ReplyDelete

 
Top