3


KETIKA NIAT AWAL HARUS DI JAGA

Malam itu aku mendengarkan acara radio kesukaanku. Sebuah talkshow mengenai dunia cinta dan rumahtangga di sebuah radio islam swasta di kotaku. Ketika jawaban dari sebuah pertanyaan menyentakku. “Ustadz mengapa kini rumah tangga yang saya bangun begitu jauh dari impian? Ternyata suamiku kini ringan tangan dan tak bertanggung jawab dengan nafkah keluarga.Sebenarnya saya tidak tahan ustadz, tapi mohon nasehatnya”, begitu kira-kira sang penyiar menyampaikan sebuah pertanyaan dari seorang ummahat. Dan jawaban dari pertanyaan itu cukup singkat tapi mengena,”Coba ibu koreksi ke belakang, mungkin dulu cara ta'aruf sebelum menikahnya ada yang salah tidak sesuai dengan kehendakNya.” 
 
Jawaban itu kembali mengingatkanku akan bentangan masa lalu, ketika aku ingin menyempurnakan dienku. Saat itu begitu inginnya aku segera menyempurnakan sunnah itu. Hatiku sudah siap namun dengan siapa aku hendak menyempurnakannya? Aku tidak punya gambaran sedikitpun tentangnya. Mungkin Allah mendengar galauku. Seorang sahabat menyampaikan padaku jika ada seorang ustadz yang di kenalnya mencari seorang akhwat untuk di taarufkan dengan seorang ikhwan. Aku langsung mengiyakannya. Aku pun semakin bersemangat. Terlebih ketika aku membaca buku NIKMATNYA PACARAN SETELAH PERNIKAHAN karya Salim Alfillah. Tulisan di sampul belakang bukunya membuatku tersipu-sipu. Gambaran tentang rumahtangga yang indah yang akan aku bangun kelak seolah terbentang di hadapkan.

Alangkah seringnya mentergesai kenikmatan tanpa ikatan
membuat detik-detik di depan terasa hambar
belajar dari ahli puasa, ada dua kebahagiaan baginya
saat berbuka dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala
Inilah puasa panjang syahwatku, kekuatatan ada pada menahan
dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka yang penuh kejutan
coba saja kalau Allah yang telah menghalalkan, setitis cicipan surga
kan menjadi shadaqah berpahala

Ya, semoga dengan itikadku untuk mencari seorang pendamping hidup yang akan mendampingiku seumur hidup dengan jalan ta'aruf mendapat ganjaran seperti yang di sampaikan Akhi Salim dalam bukunya itu. Aku akan mencicipi setitis cicipan surga yang aku sendiri tidak bisa membayangkan seperti apa nikmatnya.


Taaruf yang pertama dan kedua sudah kami lalui. Tinggal taaruf yang ketiga yang akan menentukan hari pernikahan kami. Ketika pertama bertemu dengan ikhwan itu ingin sekali ku urungkan niat itu, karena Allah menciptakan tampilan fisik sang ikhwan itu mendapat nilai 5 bagi penilaian manusia. Tapi aku segera beristigfar, ku perbaharui lagi niatku berta'aruf. Jika Allah memberikan kekurangan pada tampilan fisiknya, pasti Allah memberikan kelebihan pada yang lainnya batinku saat itu. Yang aku ketahui sekarang tentang sang ikhwan itu ialah yang mengantar dan menjemput ustadz ketika akan mengisi kajian di masjid dekat bengkelnya. Pun dengan beberapa hartanya yang sempat di sampaikannya waktu taaruf sedikit banyak mempengaruhiku untuk meyakinkan diri membangun hidup bersamanya kelak.

  Namun tiba-tiba dering telepon mengganggu lamunanku. Sebuah nomor tak bernama muncul di sana. Ketika ku jawab ternyata dia-sang ikhwan-. Dia hanya menanyakan kabarku. Namun setelah itu telepon dan sms selalu muncul setiap harinya menanti pertemuan ketiga. Tak jarang ku acuhkan saja namun terkadang hatiku tergoda jua. Aku antara bimbang meladeni telepon dan smsnya, bahkan terkadang dia mengajakku jalan keluar. Ada apa gerangan dengan dia? Akhirnya kebimbanganku ku sampaikan ustadz penghubung ta'arufku. Ketika dia di ingatkan jawabannya mengejutkanku. Dia menyatakan ingin menjalani ta'aruf sendiri, tanpa penghubung lagi. Ustadzpun angkat tangan dari masalah ini.

Pada awalnya aku tidak pernah menghiraukan sms dan telepon dari dia sejak dia memutuskan untuk manjalani “taaruf” itu sendiri. Namun syetan memang benar-benar pandai merasuki hatiku. Akhirnya aku terjatuh dalam sebuah proses yang dinamakan pacaran. Aku dan dia sering berteleponan dan ber sms. Bahkan kadang-kadang aku dan dia pergi jalan keluar bersama. Hati kecilku berontak, tapi setan ternyata lebih kuat menjeratku. Aku pun tak mau berlama-lama dengan kondisi seperti ini. Dan akhirnya kami menikah setelah 3 bulan dari proses yang "diharamkan " itu.

Namun kehidupan rumahtanggaku tak seindah yang ku bayangkan. Baru dua bulan kami mengecap manisnya berduaan terkuak kedok suamiku yang selama ini di sembunyikan dariku. Hutangnya menumpuk di mana-mana. Satu persatu hartanya di jual. Mobil, tiga buah sepeda motor, bengkel, rumah, tanah, usaha rumah makannya habis sudah.
Sisa uang pesangon yang sempat ku gunakan untuk uang muka membeli rumah dari tempatku bekerja pun habis sudah. Aku sungguh lunglai, apalagi saat itu aku sedang hamil muda anak pertama dan kondisiku tidak fit. Suamiku pun semakin jauh dari masjid, sering marah-marah kepadaku dan bahkah terkadang berani berbuat kasar padaku. Bahkan suamiku pernah berurusan dengan polisi karena menjadi penadah barang curian.Setiap malam air matakupun jatuh becucuran. Tuhan inikah bal
asanMu karena aku dulu mengingkari syariatmu. Hingga bukan setitis cicipan surga yang ku dapat tetapi setitis cicipan neraka?

Setahun setelah pernikahanku dalam tangis pernah ku telepon seorang sahabat yang mengerti betul kisahku ini. Betapa aku ingin bercerai dari suamiku. Namun beliau mengingatkan bahwa setiap rumahtangga memiliki ujian tersendiri, walau perceraian di perbolehkan namun sangat dibenci Allah. Mungkin juga apa yang menimpaku sekarang ini adalah adzab dari perbuatanku sendiri. Karena niat awal suciku yang ku nodai sendiri. Kini ku tertatih-tatih menjalani biduk rumahtangga ini. Jalan yang telah ku pilih sendiri. Karena niat suciku yang telah ku nodai sendiri. Ku tatap wajah ke dua anakku, merekalah pelipur laraku. Semoga kesabaranku menjalaninya kan menjadi penghapus dosa dan berbuah surga.

Alangkah seringnya mentergesai kenikmatan tanpa ikatan
membuat detik-detik di depan terasa hambar
belajar dari ahli puasa, ada dua kebahagiaan baginya
saat berbuka dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala
Inilah puasa panjang syahwatku, kekuatatan ada pada menahan
dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka yang penuh kejutan
coba saja kalau Allah yang telah menghalalkan, setitis cicipan surga
kan menjadi shadaqah berpahala
(Buku "Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan)
*** 
#Tulisan ini berdasarkan 90% kisah nyata dari sahabat saya yang saya tuliskan kembali dari sudut pandang aku. Pernah diikutsertakan dalam Lomba Kisah menggugah Pro u Media tahun 2010 

#ODOP minggu ke 3 tentang buku 

Post a Comment

  1. Bukunya Ust Salim A Fillah ini memang keren mbak Wiwid 👍.
    Dulu pertama kali bc thn 2011 di perpus sekolah.
    Sekarang udah beli sendiri & udah dibaca berkali-kali.
    Semoga benar-benar bisa mengaplikasikan isi buku ini.
    JoSH (Jomblo Sampai Halal) 😊

    ReplyDelete
  2. Bukunya Ust Salim A Fillah ini memang keren mbak Wiwid 👍.
    Dulu pertama kali bc thn 2011 di perpus sekolah.
    Sekarang udah beli sendiri & udah dibaca berkali-kali.
    Semoga benar-benar bisa mengaplikasikan isi buku ini.
    JoSH (Jomblo Sampai Halal) 😊

    ReplyDelete

 
Top