9
news.babe.co.id

“Maaf Mbak, mbak mencari Pak Ridwan bukan?” tiba-tiba lelaki kurus tampan tadi mendekat.

“Ya,” Rindang menjawab dengan dingin tanpa menoleh sedikitpun, asyik memainkan gadgetnya.

Lelaki kurus itu menyebutkan nama. Tiba-tiba telinga Rindang panas bagai di sengat lebah. Wajahnya pun ikut memerah. Lelaki kurus tampan itu hanya tersenyum, sorot matanya menyiratkan rasa maaf. Membuat Rindang semakin merasa bersalah.

##
            Lelaki tua itu masih sibuk menyapu halaman yang di penuhi dengan ulat lorek-lorek berwarna hitam  merah berbulu yang berjalan kesana-kemari tanpa rasa takut.

            “Sudahlah di tebang saja pak,” ibu selalu bilang begitu.

Namun Bapak menggeleng. Ibu pun kembali diam. Pohon itu pohon kesayangan Bapak. Tidak hanya satu, mengelilingi pekarangan rumah Bapak. Tanah dan pohon peninggalan nenek. Tidak akan mungkin Bapak mengijinkan ayah menebangnya, kecuali pohon itu memang sudah tua dan mati.

“Iya bu tidak usah di tebang, musim ulat ini juga nanti hanya sebentar saja,” seorang gadis keluar dari rumah sambil membawa jerigen minyak tanah dan mancis ditangannya.

Ibu pun tahu, pohon itu punya andil dalam membantu sepasang anaknya mengenyam pendidikan universitas. Ibu masuk ke dalam rumah, meski ulat-ulat itu membuat ibu bergidik, tetapi ibu lebih tidak tahan melihatnya menggeliat-geliat ketika Bapak memanggangnya.

“Kapan Mas mu pulang Win, sudah kamu telpon dia?” tanya Bapak pada anak perempuannya.

“Tolong diingatkan kalau minggu depan dia harus pulang. Ada janji temu dengan Pak Rahmad. Masmu itu jika tidak di ingatkan akan terus sibuk. Tolong di ingatkan ya nduk?” Tanya Bapak lagi sebelum pertanyaan pertama di jawab.

“Iya Pak, sudah Ku telpon. Dia lagi sibuk membuka warungnya yang baru”.

“Bocah kuwi memang ra nduwe kesel. Nek ngono kuwi terus kapan rabine,” gerutu bapak.


Win hanya tersenyum. Win memang salut dengan kerja keras Masnya yang harus di acungi jempol.  Namun berkat kerja kerasnya juga peternakan Ayam jambul Bapak semakin maju. Tiba-tiba ingat pesan Bapak jika minggu depan ada pertemuan dengan Pak Rahmad. Win tersenyum, namun tidak yakin jika keinginan Bapak akan sesuai dengan keinginan Masnya. “Oke, Kita lihat saja nanti,” Win membatin. 


Catatan kaki:
Bocah kuwi memang ra nduwe kesel. Nek ngono kuwi terus kapan rabine: Anak itu memang tidak ada capeknya, jika seperti itu kapan menikahnya?

#ODOP menulis setiap hari
#Tantangan Cerbung

Post a Comment

  1. Rindang sm win ada kaaitannya ga mb wid? hehhe, mulai keepo

    ReplyDelete
  2. Mba saya gagal faham di kalimat "...bapak mengijinkan ayah menebangnya"
    Ayah itu maksudnya bapak kan mba?

    Rindang merasa bersalah. Pasti wajahnya lucu.

    ReplyDelete
  3. Ketinggalan cerita mbak wid nih aku.. judulnya kreatif banget mbak wid. 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, aku juga suka judulnya bikin penasaran..^_^

      Delete
  4. Mba saya gagal faham di kalimat "...bapak mengijinkan ayah menebangnya"
    Ayah itu maksudnya bapak kan mba?

    Rindang merasa bersalah. Pasti wajahnya lucu.

    ReplyDelete
  5. Dibagian ke 3 ini, tulisannya makin kece saja, Mbak. Kagum dengan kemajuannya. ^^

    Jadi menduga-duga, apakah Pak Rahmad adalah ayahnya Rindang?

    ReplyDelete
  6. Aku tiap hari bergulat dg tepung dan bumbu. Bikin Mie.
    Jangan2 lelaki itu aku???
    Hehehee

    ReplyDelete
  7. bahasa jawa memang bingung saya, untuk ada penjelasan di akhir nya jadi ngerti :D

    ReplyDelete

 
Top