7
         
www.pixabay.com
       Kakiku melangkah menuju rumah kecil malam itu, ah belum malam benar untuk kota Batam yang selalu hidup 24 jam. Jarum jam pendek baru menunjukkan angka 9. Ku ketuk pintu rumah bercat putih itu. Tiada orang menyahut. Kuputar pintu anak kunci. Ya, aku memang memiliki kunci rumah mungil ini. Dua tahun yang lalu aku sempat menempatinya.

          Rumah sepi, dua pintu kamar sama-sama tertutup. Namun terdengar suara berisik di dalam kamar. Tangan kananku sudah siap mengetuk, namun ku urungkan. Aku hanya berdiri tegak mematung di depan kamar. Entah apa yang terlintas di kepalaku saat itu. Aku pun tidak tahu tujuanku ke rumah mungil ini, hati kecilku yang membawa kakiku melangkah ke sini.

         Aku masih mematung ketika kamar pintu terbuka untuk beberapa saat. Pemandangan di depan mataku membuatku ingin menjerit seketika. Namun entah mengapa justru hatiku terasa sakit dan nelangsa, semua menjadi satu. Tatapan matanya yang seolah menyiratkan rasa tidak bersalah membuat darahku naik ke ubun-ubun. Tetapi bibirku kelu. Kemudian hatiku terasa ngilu dan kemudian airmata mengalir perlahan. Aku berlari meninggalkannya.


     Ku telungkupkan wajahku di atas pembaringan, menahan rasa sakit dan sedih yang datang bersamaan. Ah, dua wajah itu menari- nari terus di kepalaku. Aku harus melakukan sesuatu. 

Bersambung

Post a Comment

 
Top