5
Aku mengenalmu sebagai seorang penyair. Meskipun namamu belum semelambung Fakrunas Ma Jabbar atau Tere Liye, namun karya-karyamu sering kunikmati di halaman harian lokal di kotaku. Aku yang sedang belajar menulis, entah mengapa begitu tertarik dengan puisi-puisimu daripada puisi-puisi penulis yang lain. Menurutku bahasamu begitu cantik diksi-diksinya, meski terkadang sulit kupahami. Apalagi ketika puisimu sedang bertema cinta. Yah karena aku hanyalah penikmat puisi tetapi tidak bisa merangkai kata seperti dirimu.

Dari seringnya meMbaca karya-karyamulah aku begitu tertarik untuk bisa mengenalmu. Apalagi kita masih sebaya, kulihat dari biodata singkat yang tercantum di bawah karyamu. Ku coba memberanikan diri mengirim sapa lewat email yang juga tertoreh di sana. Dan ternyata engkau mau menjadikanku sebagai temanmu. Sejak saat itu kita saling bertukar sapa, saling berdiskusi mengenai apa saja terutama tentang puisi-puisimu.


Aku sering menanyakan arti dari puisi-puisimu yang aku tidak tahu maknanya. Dari situlah aku belajar merangkai kata untuk mencipta sebuah puisi, meski aku tidak tahu apa alasannya hingga aku tertarik untuk menjadi seorang penyair. Namun ternyata bagiku cukup sulit. Dan engkau selalu menyemangati bahwa dulu engkau juga berusaha keras hingga sekarang puisi-puisimu selalu hadir setiap minggu di koran-koran harian di kota kita, secara bergantian.

          Sampai saat ini kita hanya berteman lewat email. Tadi aku mendapat email darimu, mengabarkan bahwa engkau menjadi juara pertama lomba cipta puisi yang diadakan sebuah universitas swasta di kota kita. Aku hanya bisa mengucapkan, ”Selamat. Kamu memang pantas mendapatkannya. Karya-karyamu selama ini yang kutahu memang selalu bagus.”

          Hingga akhirnya sore ini kita berjanji untuk bertemu di taman kota. Aku memang sering menghabiskan sore di sini. Pemandangannya lumayan indah untuk sekedar refreshing. Ku tunggu engkau di depan gerbang sambil duduk disalah satu bangku. Memandang burung-burung yang terbang rendah di atas kolam yang menghijau airnya. Aku berbekal foto yang kemarin kau kirimkan lewat email. Kulirik albaku, jam lima sore. Tiba-tiba hapeku berdering, namamu muncul disana. Kuedarkan pandangan, dan menangkap sosok gadis yang sedang mendekatkan hapenya di telinga. Memang benar itulah engkau.

          Seorang gadis dengan jilbab biru langit yang membalut wajah manisnya. Mata beningnya menyimpan sedikit kabut, namun langsung terkubur karena keramahanmu. Tak perlu basa-basi terlalu lama karena kita sama-sama menyukai dunia tulis-menulis. Namun gerimis memisahkan kita sore itu.

Sebelum jarum-jarum air benar-benar membasahi bumi, kau sodorkan sebuah novel berjudul Dorodasih karya Iman Budhi Santosa.

“Mungkin buku ini bisa menambah kosakata dan imajinasimu,” pesanmu waktu itu. Kita saling berjanji untuk bertemu di suatu hari sebelum kita benar-benar berpisah di parkiran. Ku tunggu engkau hingga menghilang di tikungan jalan dengan mio sportimu.

          Namun tiba-tiba aku tak pernah menemukan lagi karya-karyamu setiap hari minggu. Karya-karyamu raib seperti di telan bumi. Ah mungkin kamu sedang sibuk jadi tidak sempat menulis? Kubiarkan hal itu hingga waktu berlalu begitu lama. Enam bulan adalah waktu yang cukup lama untuk mandegnya sebuah kreativitas. Aku semakin heran, apa yang terjadi denganmu. Karena setiap kali aku menelepon, mengirim sms atau menanyakannya lewat email jawabanmu selalu sama, “Aku sedang sibuk Rika.” Atau “Aku belum sempat mengetiknya di komputer.” Atau “Komputerku sedang rusak”.

          Aku meminta untuk bertemu denganmu di taman lagi. Berharap mendapat penjelasan yang sebenarnya tentang keadaan dirimu. Syukurlah engkau mau meluangkan waktumu untukku. Kutemui engkau sore itu yang berwajah mendung, senyum tipismu seolah engkau paksakan untukku. Kita duduk di tepi kolam. Suasana di tepi kolam lebih sepi karena pengunjung taman lebih senang berjalan-jalan di atas batu refleksi. Di tepi kolam itu aku berharap engkau mau menumpahkan segala mendung yang tersimpan di wajahmu.

          “Wulan, aku merindukan tulisan-tulisanmu terlebih puisimu nongol di media seperti dulu lagi,” kataku mencoba membuka percakapan.

          Wulan hanya tersenyum tipis. Matanya hanya menerawang jauh menembus langit yang tertutup sedikit awan.

          “Sebenarnya ada apa denganmu Wulan, hingga vakum begitu lama?” kataku lagi.
          Wulan menoleh kepadaku sejenak, seolah-olah mencari-cari sesuatu dari balik pijar mataku. Dengusannnya seolah membuang segala gundah yang menyelimuti hatinya.

          “Rika, sebenarnya aku malu menceritakannya padamu.”

          Wulan kembali terdiam. Matanya menatap ubin lantai yang kusam mencoba mencari kekuatan disana.

          “Tak apa ceritakanlah. Mungkin dengan cerita kepadaku kamu bisa lebih lega dan kembali berjaya menjadi penyair seperti dulu.”

          “Rika sebenarnya aku mampu menulis itu karena ada seseorang yang menyemangati hidupku. Menyemangatiku untuk menulis. Hingga kau saksikan bahwa mungkin hampir tiap minggu tulisanku di muat di beberapa media cetak di kota kita. Tapi orang itu sekarang tidak ada lagi Rika.”

          Aku hanya terdiam tidak berani bertanya tentang keberadaan orang yang telah begitu mempengaruhi jiwa Wulan.

          “Orang itu sekarang bukan untukku lagi Rika. Dua tahun lebih aku merajut bunga-bunga cinta dengannya, tetapi ternyata kandas. Aku begitu terpukul terlebih setelah tahu hatinya berpaling kepada seseorang yang juga begitu ku kenal. Dan setiap aku mencipta sebuah puisi, puisi itu tidak pernah selesai Rika.”

          Aku hanya terdiam. Ternyata sang penyair sedang patah hati. Ah sebegitu dalamnyakah pengaruh lelaki itu ke jiwa Wulan. Aku tak tahu rasanya karena aku belum pernah punya pacar dan patah hati.

          “Tapi Wulan sepertinya kamu harus tetap bangkit, kamu harus menang melawan itu semua. Jangan sia-siakan waktu yang ada,” begitu nasehatku pada Wulan seperti seorang guru menasehati muridnya.

          Namun Wulan hanya terdiam, sesekali dengusannya terdengar di telingaku. Seolah ingin membuang segala beban yang masih mengganjal di hatinya. Hingga akhirnya kami berpisah karena senja mulai merambati waktu, dan aku mendengar lirih ucapnya,”Ya aku harus bangkit.”


          Sejak itu aku tak pernah bertemu dengan Wulan karena kami di sibukkan dengan persiapan ujian nasional. Hingga akhirnya aku harus meninggalkan kota bertuah ini menuju sebuah universitas favorit di Yogyakarta. Kemudian ku temukan tulisan puisimu di sebuah majalah teenlit dengan judul “Rindu untuk sahabat”. Ah sang penyair akhirnya bangkit juga.*** 

Post a Comment

 
Top