15

Ini semua gara-gara game online.  Malam telah beranjak, hanya sunyi yang menyergap. Namun suara bayi menangis kencang membelah malam. Sudah tiga hari badannya panas dan belum menurun.
“Pa, cepat. Belikan obat panas di apotek terdekat,” aku berteriak dari kamar. Lelakiku hanya menjawab dengan kata sebentar. Senyum bahagia tersungging di bibirnya. Lelaki itu belum berubah juga. Game online  telah jadi candu baginya.

Ini semua gara-gara game online.  Malam telah beranjak, hanya sunyi yang menyergap. Namun suara bayi menangis kencang membelah malam. Sudah tiga hari badannya panas dan belum menurun.
“Pa, belikan obat panas di apotek terdekat,” perempuanku berteriak dari kamar. Aku hanya menyahut sejenak.  Game online ini sedang mengasyikkan. Aku tak mau di ganggu. Toh bukan yang pertama si kecil demam dan akan reda setelah di kompresnya.  Jika sudah malam begini apotek terdekat yang masih buka  agak jauh dari perumahan. Hmm sebentar. Aku bahagia, kali ini aku akan menang.


Ini semua gara-gara game online.  Malam telah beranjak, hanya sunyi yang menyergap. Namun suara bayi menangis kencang membelah malam. Sudah tiga hari badannya panas dan belum menurun.
“Pa, belikan obat panas di apotek terdekat,” teriakan itu menggangguku. Aku segara keluar kamar. Si kecil sejak semalam memang rewel, badannya panas. Obat paracetamol telah habis ku minumkan. Harusnya si kecil dibawa ke rumah sakit. Namun kebiasaan Tuan yang menggampangkan suatu hal. Bahkan kini dia tidak beranjak meski menit telah berlalu dari teriakan Nyonya. Tangan dan matanya masih asyik menekuri handphone. Bibirnya melengkung menggambarkan senyuman.

Ini semua gara-gara game online.  Malam telah beranjak, hanya sunyi yang menyergap. Namun Suara bayi menangis kencang membelah malam. Sudah tiga hari badannya panas dan belum menurun.
“Pa, belikan obat panas di apotek terdekat,” teriakan itu terdengar jelas dari rumah sebelah. Siapa yang tidak mendengarnya. Rumah model couple satu atap yang seperti tak berbatas. Kemarin pemilik rumah sebelah bercerita si kecil sudah tiga hari panas. Si kecil harusnya segera dibawa ke rumah sakit. Namun papanya si kecil yang sedang kecanduan game online, menyarankan untuk memberi minum obat penurun panas dulu. Mungkin sekarang obatnya telah habis.

Ini semua gara-gara game online.  Malam telah beranjak, hanya sunyi yang menyergap. Namun suara bayi menangis kencang membelah malam. Sudah tiga hari badannya panas dan belum menurun.

“Pa, belikan obat panas di apotek terdekat.” Tetapi suaminya tak segera beranjak. Menurut gosipnya, suaminya kecanduan game online. Hingga obat penurun panas itu tak terbeli. Harusnya suaminya segera beranjak pergi. Perempuan itu menangis.Kabar telah disiarkan. Tetangga telah bergerak. Lubang kubur telah di siapkan. Surat keterangan kematian atas nama si kecil telah kubuat.

(end)

Post a Comment

  1. Duuh ... gara-gara game online, nyawa anak tercinta pun melayang. Na'udzubillah. Semoga kita terhindar dari hal yang demikian. Aamiin

    ReplyDelete
  2. Udah jadi budak game online..akibatny jdi mnggampangkan sampe hal yg trpnting...
    Jdi pringatan tuk yg dah kcanduan...

    ReplyDelete
  3. Udah jadi budak game online..akibatny jdi mnggampangkan sampe hal yg trpnting...
    Jdi pringatan tuk yg dah kcanduan...

    ReplyDelete
  4. Waduh, kenapa tulisannya banyak yg jadi model roller coaster kaya gini terus?

    ReplyDelete
  5. Waduh, kenapa tulisannya banyak yg jadi model roller coaster kaya gini terus?

    ReplyDelete
  6. Kejadian nyata ini. Mau games, chating atau apa pun kalau sudah kecanduan, wih... pasti ada korban.

    ReplyDelete
  7. gara-gara game online banyak para pemuda/i menghabisakan waktunya dengan bermain game.

    ReplyDelete
  8. Mantap mba ,,,

    Masyaallah game onlineee iniii,,

    ReplyDelete
  9. wiiih mbak wid kereeen...POV berbeda beda..saluuut deh..

    ReplyDelete
  10. wiiih mbak wid kereeen...POV berbeda beda..saluuut deh..

    ReplyDelete
  11. wiiih mbak wid kereeen...POV berbeda beda..saluuut deh..

    ReplyDelete

 
Top