8
“Jangan bunuh dia!”

“Kenapa?”

“Karena kamu pembunuh.”

“Jangan bunuh dia, kumohon kali ini saja!”

“Kenapa, berikan alasanmu?”

“Aku hanya tetap ingin melihatnya.”

“Tak seharusnya dia hidup.”

“Tak seharusnya kamu mengakhiri hidupnya, kamu bukan Tuhan.”

“Apa gunanya dia hidup, tengoklah dirimu yang sekarat.”

“Aku tetap ingin dia hidup.”

“Dasar buta.”

“Dasar pembunuh.”

“Aku bukanlah pembunuh, kau yang pembunuh. Kau bunuh dirimu sendiri.”

Sunyi, sepi, hanya detak jarum jam diding berdetak membelah sunyi.

 “Benarkah aku pembunuh?”

“Ya, kau bunuh dirimu sendiri. Dengan cinta yang meranggas.”

Sunyi sepi lagi, detak jarum tak berhenti.

“Maka bolehkah ku bunuh dia?”

Sunyi sepi, detak jarum jam semakin berlari.

“Maka bolehkah ku bunuh dia?”

“Bunuhlah, kau benar sembilu ini semakin meyayat dan aku semakin sekarat.”


Aku yang sekarat, menatap tak percaya pada setiap gerakan jemarinya yang lincah. Perlahan-lahan membunuhnya, dalam setiap rangkaian cerita yang ditulisnya. Rangkaian cerita yang sama atas hatiku yang meranggas karena cinta. 

Post a Comment

  1. Masih kaget..eh udah slesai ceritanya -_-

    ReplyDelete
  2. Kurang panjang bund, hhii... Udah tahan napas ini tadi

    ReplyDelete
  3. judulnya jdi inget nama lagu kak Wid .. hehe

    ReplyDelete
  4. kak ,,, kurang panjaaaaang ,,

    gregetiin ,,
    gemes

    ReplyDelete

 
Top