7
Google Search

“Bagaimana kabar anak anakmu?” suara serak di ujung telepon menanyakan kabar cucu-cucunya. Seperti biasa itulah pertanyaan pertama setiap ibu meneleponku. Paling sedikit sebulan sekali ibu meneleponku.
Ibu tak pernah menanyakan kapan rencana kepulanganku. Beberapa waktu lalu bahkan justru ibu yang mengunjungi kami. Oleh-oleh yang menggunung tak lupa dibawanya. Semua adalah makanan kesukaanku, tak lupa juga penganan kecil untuk cucu-cucunya.  Bahkan cabe, bawang merah dan beras pun dibawanya.
“Berat bu,” ucapku. Ibu hanya tersenyum dan kemudian berkata,”Aku nggak tiap hari datang kesini. Lagian di sini semua mahal. Nah itu beras hasil sawah, digiling di tempat Pak Marno. Kamu pasti seneng, berasnya pulen.”
Airmataku merembes melihat wajahnya yang berbinar bahagia bisa membawakanku makanan-makanan nostalgia. Kemudian hari-hari selanjutnya aku akan dibuat terdiam menyaksikan ibu memasak di dapur. Setiap hari tentu menunya berbeda. Ada lethok, masakan tempe busuk dicampur tahu plus santan kental. Ini salah satu makanan kesukaanku.  Lebih lezat lagi dimakan dengan sayuran hijau. Kemudian lodeh terung, sambal kerecek plus kentang, sayur brongkos, urap dan lain sebagainya. Semua terasa lezat dilidahku.
“Ibu tinggal disini saja ya. Kalau nanti bosen, ibu jualan nasi uduk di depan rumah,” tawaranku sebelum ibu pamit pulang. Baru dua minggu ibu tinggal di sini, tapi kampung halaman terasa memanggilnya.
“Nanti rumah bapakmu ngak ada yang ngurus, rubuh. Itu peninggalan paling berharga dari bapakmu. Dan juga si Bleki nggak ada yang ngasih makan.” Bleki adalah kucing hitam yang tinggal sama ibu.
Akhirnya pagi itu kami mengantarkan ibu ke bandara. Sebelum masuk ke ruang tunggu, ibu hanya berdoa semoga kami dimudahkan rizkinya sehingga bisa setiap saat menengoknya di Jogja.
Dari ibu aku banyak belajar, bahwa cintanya tak pernah mati untuk kami anak-anaknya. Ibu yang tak pernah mengharapkan apapun dari anak-anaknya kecuali anak-anaknya bahagia. Setiap dia kangen dengan anak-anaknya yang jauh merantau, dia sempatkan untuk terbang dan menengoknya. Aku hanya selalu berpikir, apakah hal yang telah kulakukan untuk membuat ibu bahagia? Sedang cintanya tak terhingga sepanjang masa. (end)

#Onedayonepost challenge

Post a Comment

 
Top