6
www.pixabay.com
Bagian sebelumnya:

Aroma hujan masih menusuk hidung sore itu. Saat Ayla Bram memasuki halaman rumahnya, seorang perempuan tua duduk di teras sedang menunggunya. Seingat Bram dia tidak pernah memberikan alamat rumah barunya kepada perempuan itu. Belum sempurna Bram menutup pintu Aylanya, perempuan tua itu tiba- tiba sudah memeluknya. Bram terpaku, kemudian rasa kerinduan mencair dihatinya membuat kedua tangannya membalas pelukan perempuan itu dengan penuh kasih.

"Aku rindu kamu Bram, ini oleh-oleh untukmu," sambil diserahkannya sebuah kotak seukuran bungkus mi instant.

"Datanglah besok malam ini ke rumah. Ikhlaskanlah".


           Bram terdiam membisu. Ditatapnya perempuan tua itu. Rambutnya yang mulai memutih, tulang pipinya semakin cekung. Namun ada kelembutan hati terpancar dari sinar matanya. Sebenarnya Bram tidak ingin membuat hati perempuan tua ini kecewa. Tetapi dasar hatinya yang paling dalam berkata lain.

"Apakah aku harus datang Bu?"

Berganti perempuan tua itu yang menatap Bram, tatap penuh harap. Kemudian dia bergegas pamit meski Bram belum membuat keputusan. Win baru saja turun dari mobil kantor yang mengantarkannya pulang, ketika perempuan itu meninggalkan pintu gerbang. Dan melihat Bram yang masih terpaku diteras rumahnya.

"Siapa Mas," tanya Win penasaran.

"Ibu" jawab Bram singkat tanpa ekspresi meski matanya meredup. Jawaban Bram membuat Win semakin penasaran. Jelas perempuan tua tadi bukan ibu mertuanya, pun Bram tidak pernah bercerita atau mengenalkan perempuan tua lain sebagai ibunya.


"Ini ada oleh-oleh untuk kita" ujar Bram sambil beranjak masuk dan menenteng sekotak oleh-oleh dari perempuan tua tadi. Win sama sekali tidak tertarik dengan oleh-oleh itu. Sepanjang malam pikirannya bekerja keras menyusun puzzle untuk menjawab teka-teki tentang perempuan tua itu. Tapi hasilnya nihil, pun tak terlontar secuil ceritapun dari Bram. Win lelah dan malam itu menyerah.

Bersambung

#ODOP Menulis setiap Hari
#Tantangan cerbung

Post a Comment

 
Top