5
www.pixabay.com
Bagian sebelumnya

"Bapak sangat suka akan hujan Win" ujar ketika Bapak dan Win duduk diteras menikmati hujan yang seolah tidak akan reda senja itu. Dua gelas wedang jahe panas dan sepiring kue brownies menemani mereka. Selalu hujan mengakrabkan Win dan Bapak. Terkadang ditemani sepiring pisang goreng dan teh panas, atau sepiring ubi jalar goreng dan teh panas. Bapak dan Win akan duduk terdiam meski sesekali di iringi percakapan singkat hingga hujan reda atau kumandang adzan yang menyadarkan mereka.

 Pohon jati di kebun seberang jalan meliuk-liuk diterpa angin dan hujan. Kata Bapak usia pohon jati itu jauh lebih tua dari umur Win saat itu. Padahal Win sudah semester empat di salah satu fakultas ekonomi di perguruan tinggi ternama di kotanya. Pohon jati itu juga saksi kebersamaan Win dan Bapak menikmati hujan. Bagi bapak hujan itu membahagiakan. Membawa kesejukan dan bisa membawa pergi setiap kesedihan.


“Tapi hujan juga sering membawa bencana kan pak?” tanya Win mencoba mencari pembenaran. Bapak menggeleng.

“Bukan, bencana yang di bawa hujan itu hanyalah pencerminan dari ulah manusia itu sendiri.”

Win mengangguk setuju. Pikirannya mengembara, tanah longsor, banjir dan bencana lainya itu sebenarnya di sebabkan ulah manusia itu sendiri yang suka membuang sampah di sungai atau menebangi hutan hingga gundul.


"Win, Bapak sangat bahagia bisa menikmati hujan bersamamu" ujar Bapak menyela lamunan Win sambil menatap hujan yang masih lebat tanpa menoleh kepada Win. Win hanya menatap rona kebahagiaan dan kesedihan yang terpancar bersamaan diwajah Bapak saat itu. 

Mungkin pohon jati itu lebih tahu yang terjadi dengan Bapak, batin Win.

Bersambung

Post a Comment

 
Top