sumber : googleseach “Aku ingin menyerah,” katamu dalam suatu kesunyian. “Kenapa?” tanyaku kemudian. Kamu terdiam. Tidak sanggup menjawab pertanyaan. Tepekur matamu menatap lantai keramik di areal majid tempat kita bertemu sore itu. Ujung sepatumu beradu, merunduk dan helaan nafas panjang cukup menggambarkan suasana hatimu. Aku tahu kamu tidak bisa berbuat apa-apa, selain hanya pasrah kepada Yang Maha Kuasa, atas semua rasa yang mengguncangkan jiwamu. Akhirnya kamu hanya tergugu, kedua telapak tanganmu kamu tutupkan di wajahmu. Ayah dan Ibumu, beserta seorang adikmu. Ah Ikut mengingatnyapun membuat hatiku tersayat, perih. “Kini aku hanya memiliki sebuah cinta,” ucapan dalam isakmu yang kudengar lirih. “Maka tetaplah mencintainya, bukankah cinta itu datang dari-Nya?” ucapku sambil kurengkuh pundaknya yang ramping. “Aku tak mengerti.” Kamu terdiam sejenak. “Sesungguhnya apa perbedaan dari menyerah dan pasrah?” tanyamu kemudian. Kutepuk pundakmu perlahan, mencob...
Mari menari bersama kata-kata dan imajinasi